EVALUASI PENDIDIKAN

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BE, dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber “tradisi” yaitu 624 BE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun “sejarah” 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun “sejarah” dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis BE sebanyak 544 tahun Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.
Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. 100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).
Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.
Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha
Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin yang sekarang dikenal sebagai Theravada. Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka
Agama Buddha mempunyai banyak aliran besar diantaranya adalah aliran Theravada, aliran ini berkembang di Indonesia dan juga berkembang di Negara-negara buddhis diantaranya, tapi diantara aliran-aliran besar ini, Theravada mempunyai paham sendiri seperti aliran-aliran yang lain. Dalam aliran theravada hanya Buddha Sakyamuni dalam sejarah dan para Buddha masa lampau juga diterima. Sedangkan apabila kita bandingkan dengan aliran Mahayana cukup berbeda, dalam aliran Mahayana terdapat Buddha lain selain Buddha Sakyamuni, pada saat ini Buddha Amitabha dan Buddha Baisyajaraja (Obat) sangat terkenal. Sehingga hal seperti ini yang mudah terlihat bahwa aliran-aliran dalam agama Buddha mempunyai paham yang berbeda-beda, selain itu juga masih ada hal-hal yang membedakan, dalam aliran Theravada mempercayai bahwa boddhisatva yang di percaya atau diterima adalah hanya menerima Bodhisattva Maitreya sedangkan dalam aliran Mahayana mempercayai Bodhisattva Avalokitesvara, Mansjuri, Ksitigarbha dan Samanthabadra disamping Bodhisattva Maitreya.masing-masing aliran mempunyai tujuan pencapaian, atau arah yang akan dicapai, dalam aliran Theravada, karna di dalam aliran Theravada tujuan yang akan di capai adalah arahat dan kemudian menjadi paceka Buddha, kitab suci yang di gunakan sama dengan aliran-aliran lain yaitu tripitaka yang terbagi menjadi 3 yaitu, Vinaya Pitaka 5 buku, Sutta Pitaka 5 koleksi ( banyak sutta) dan Abhidhamma Pitaka 7 buku.aliran Penekanan utama dalam aliran Theravada adalah pembebasan diri. Kepercayaan penuh pada diri sendiri untuk membasmi semua kekotoran batin. Inilah sejarah timbulnya aliran Theravada dan juga perbedaan Theravada dengan aliran-aliran lain.

1 Comment

  1. umpama air, sungai banyak cabang semua ke satu pusat iaitu laut .nibbana .


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s