ARANAVIBHANGA SUTTA

[230] Demikian telah saya dengar:

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam dekat Savatthi di Jetava­na di vihāra Anathapindika. Ketika sedang di sana Sang Buddha menyapa para bhikkhu dengan berkata: “Para bhikkhu.” “Ya, Bhante,” para bhikkhu ini menjawab Sang Buddha. Sang Buddha berbicara demikian: “Aku akan mengajarkan kalian, para bhikkhu, uraian tentang yang tidak ternoda. Dengarkanlah baik-baik, perhatikan dan aku akan berbicara.” “Ya, Bhante,” para bhikkhu ini menjawab Sang Buddha. Sang Buddha berkata demikian:

“Kalian tidak patut berminat terhadap kebahagiaan dari orang-orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan;  juga kalian tidak patut berminat terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan. Dengan tidak mendekati kedua jalan buntu ini, terdapatlah Jalan Tengah yang ditemu­kan oleh Sang Tathagata, membuatnya terlihat, membuatnya diketahui, dan menghasilkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbāna. Seorang harus mengetahui apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui, dan setelah mengetahui apa yang disetujui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak patut menyetujui maupun tidak menyetujui – seseorang harus hanya mengajarkan dhamma. Seseorang patut mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu; setelah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seseorang patut mempunyai niat terhadap kebahagiaan bathin. Seseorang tidak boleh mengutarakan ucapan-ucapan rahasia; dalam berhadapan muka (dengan seseorang) orang tidak boleh mengutarakan apa yang meng­ganggu pikirannya. Seseorang harus berbicara cukup perlahan, tidak tergesa-gesa. Seseorang janganlah mempengaruhi dialek daerah, seseor­ang janganlah menyimpang dari cara berbicara yang lazim. Ini adalah pengungkapan dari uraian tentang yang tidak ternoda.

‘Ketika dikatakan, ‘Kalian tidak patut berminat terhadap kebaha­giaan dari kesenangan-kesenangan indera … juga kalian jangan berminat terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan,’ sehubungan dengan apakah hal ini diucapkan? Kebahagiaan apapun yang dihubungkan dengan kesenangan-kesenangan indera dan niat terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang-orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan-tujuan  ini adalah hal-hal yang membawa penderitaan, gangguan, masa­lah dan kegelisahan; ini adalah jalur yang salah. Tetapi kebahagiaan apapun yang dihubungakan dengan kesenangan indera tetapi tidak berniat terhadap kesenangan [231] yang rendah, biasa … tidak berhubungan dengan tujuan  ini tidak membawa penderitaan, gangguan, masalah atau kegelisahan; inilah jalur yang benar. Niat apapun terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan  ini adalah hal-hal yang membawa penderitaan, gangguan, masalah dan kegelisahan; ini adalah jalan yang salah. Tetapi tiadanya niat apapun terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan  ini adalah hal-hal yang tidak membawa penderitaan, gangguan, masalah atau kegelisahan; inilah jalan yang benar. Ketika dikatakan, ‘Kalian tidak seharusnya mempunyai niat terhadap kebahagiaan dari kesenangan-kesenangan indera … Juga kalian tidak seharusnya berminat terhadap penyiksaan diri yang membawa penderitaan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan,’ ini dikata­kan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan, ‘Tidak mendekati kedua jalan buntu ini, terda­patlah Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathagata, untuk dilihat, diketahui, yang mendatangkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbāna,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan? Ini adalah Jalan Mulia berunsur  delapan itu sendiri, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, pemusatan pikiran benar. Apabila dikatakan, ‘Jangan mendekati kedua jalan buntu ini, terdapatlah sebuah Jalan Tengah … yang mendatangkan … Nibbāna,’ ini dikatakan sehu­bungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan, ‘Seorang haruslah mengetahui apa yang disetu­jui dan apa yang tidak disetujui, dan setelah mengetahui apa yang disetu­jui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak sehar­usnya menyetujui maupun tidak menyetujui seseorang seharusnya hanya mengajarkan dhamma,’ sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

Dan apakah, para bhikkhu, yang disetujui dan apakah yang tidak disetujui tetapi tidak merupakan ajaran dhamma? Ia tidak menyetujui sebagian (orang) yang mengatakan: ‘Semua yang mencari kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan cenderung terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana pada jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang mencari kebahagiaan dalam hubungannya dengan kesenangan namun tidak cen­derung pada keinginan yang rendah … tidak berhubungan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana pada jalan yang benar.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang cenderung pada pelaksanaan penyiksaan diri, yang menyedihkan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, [232] mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang tidak berniat terhadap pelaksanaan penyiksaan diri yang menyedihkan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia tidak menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang di dalam dirinya be­lenggu kelahiran kembali belum tersingkirkan mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali telah disingkirkan tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Inilah, para bhikkhu, yang disetujui dan tidak disetujui namun tidak merupakan ajaran dhamma.

Dan apakah, para bhikkhu, yang disetujui dan tidak disetujui tetapi merupakan ajaran dhamma? Ia tidak berkata demikian: ‘Semua  yang mencari kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan berniat terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang keban­yakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami pender­itaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan berkata: ‘Keinginan adalah sesuatu yang membawa penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; ini adalah jalan yang salah.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang mencari kebahagiaan dalam hubungannya dengan kesenan­gan indera namun tidak berniat terhadap kesenangan yang rendah … tidak dihubungkan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gang­guan masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan berkata: ‘Tanpa keinginan adalah sesuatu yang tidak membawa pada penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; inilah jalan yang benar.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang mempunyai keinginan untuk menyiksa diri yang menyedih­kan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami penderi­taan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Keinginan adalah sesuatu yang membawa penderitaan … kecemasan; ini adalah jalan yang salah.’ Ia tidak  berkata demikian” ‘Semua yang tidak mempunyai keinginan terhadap pelaksanaan penyiksaan diri … tidak mengalami penderitaan … kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Tanpa keinginan adalah sesuatu yang bebas dari pederitaan … kecemasan; inilah jalan yang benar.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali belum tersingkirkan mengala­mi penderitaan, gangguan dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ [233] Ia hanya mengajarkan dhamma dengan mengatakan: ‘Jika belenggu kelahiran kembali belum dipatahkan, kelahiran kembali belum tersingkirkan,’ Ia tidak berkata demikian” ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali telah dipatahkan tidak mengalami penderitaan … kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Jika belenggu kelahir­an kembali disingkirkan, kelahiran kembali tersingkirkan.’ Inilah, para bhikkhu, yang bukan menyetujui dan bukan tidak menyetujui, tetapi merupakan ajaran dhamma. Ketika dikatakan” ‘Seseorang seharusnya mengetahui apa yang disetujui dan seseorang mengetahui apa yang tidak disetujui, setelah mengetahui apa yang disetujui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak seharusnya menyetujui maupun tidak menyetujui – seseorang seharusnya hanya mengajarkan dhamma,’ ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang seharusnya mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seseorang harus berniat terhadap keba­hagiaan bathin,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan?  lima hal, para bhikkhu, merupakan untaian dari kesenangan-kesenangan indera. Apakah kelimanya? Bentuk-bentuk materi yang dikenali oleh mata … suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa yang dikenali oleh lidah … sentuhan yang dikenali oleh tubuh, disetujui, menyenangkan, disukai, memikat, berhubungan dengan kesenangan indera, berdaya tarik. Ini, para bhikkhu, merupakan lima tali simpul kesenangan indera. Kebahagiaan atau kegembiraan apapun para bhikkhu, yang muncul sehubungan dengan kelima tali simpul kesenangan indera ini dikatakan sebagai kebahagian dari kesenangan indera, suatu kebahagiaan yang rendah, kebahagiaan dari orang-orang kebanyakan, kebanyakan yang tidak luhur. Aku katakan tentang kebahagiaan ini bahwa ini tidak patut dikejar, dikembangkan atau diperbanyak ini patut ditakuti. Sehubungan dengan ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, yang menjauhi kesenangan-kesenangan indera, menjauh dari keadaan-keadan pikiran yang tidak terlatih, memasuki dan berdiam dalam jhana pertama … kedua … ketiga … keempat. Ini dikatakan merupakan keba­hagiaan dari ketenangan, kebahagiaan dari kesadaran diri. Aku katakan tentang kebahagiaan ini bahwa ini patut dikejar, dikembangkan dan diperbanyak ini tidak patut ditakuti. [234] Ketika dikatakan: ‘Seseorang haruslah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu; setelah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seorang haruslah berminat terhadap di dalam (bathin).’ Ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang tidak patut mengutarakan ucapan rahasia; bila berhadapan muka (dengan orang) seseorang tidak patut menceritakan (padanya) hal-hal yang menimbulkan kecemasan/kejengke­lan,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan? Dalam hal ini, para bhikkhu, setelah mengetahui suatu ucapan rahasia tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, seseorang tidak seharusnya, apabila mungkin, mengutarakan ucapan rahasia terse­but; dan apabila, setelah megetahui ucapan rahasia tersebut sesuai dengan kenyataan, benar, namun tidak berhubungan dengan tujuan, ia harus melatih diri untuk tidak mengutarakannya. Tetapi apabila seseor­ang mengetahui bahwa ucapan rahasia tersebut sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, maka ia harus mengetahui saat yang tepat untuk megutarakan ucapan rahasia tersebut kepada (orang lain). Dalam hal, para bhikkhu, setelah mengetahui bahwa suatu ucapan yang menimblkan kejengkelan (yang diucapkan) berhadapan muka (dengan orang lain) tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, seseorang tidak seharusnya, apabila mu­ngkin, mengutarakan ucapan yang menimbulkan kejengkelan apabila berhadapan muka (dengan orang); dan jika setelah mengetahui bahwa suatu ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) di hada­pan muka (seseorang) adalah sesuai dengan kenyataan, benar, tetapi tidak berhubungan dengan tujuan, ia harus melatih diri untuk tidak mengucapkannya. Tetapi jika seseorang mengetahui bahwa ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) di hadapan muka (seseorang) adalah sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, maka ia akan mengetahui saat yang tepat untuk mengucapkan ucapan yang menjengkelkan di hadapan muka dengan (orang lain). Ketika dika­takan: ‘Seseorang tidak patut mengutarakan ucapan rahasia; berhadapan muka (dengan seseorang) ia tidak patut mengatakan (padanya) suatu ucapan yang menjengkelkan.’ Ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang harus berbicara cukup lambat, tidak tergesa-gesa,’ sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Dalam hal ini, para bhikkhu, jika seseorang berbicara tergesa-gesa tubuhnya lelah dan pikiran menderita dan suara menderita dan tenggorokan juga terkena dampaknya; ucapan seseorang yang tergesa-gesa tidak jelas atau tidak dapat dimengerti. Dalam hal ini, para bhikkhu, jika seseorang berbicara perlahan tubuh tidak lelah dan pikiran tidak menderita dan suara tidak menderita dan tenggorokan tidak terkena dampaknya; ucapan dari se­seorang yang tidak tergesa gesa jelas dan dapat dimengerti. Ketika dika­takan: ‘Seseorang seharusnya berbicara cukup perlahan, tidak tergesa-gesa.’ sehubungan dengan hal ini tersebut dikatakan.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang tidak patut mempengaruhi dialek desa, seseorang tidak patut menyimpang dari dialek yang dikenal, sehu­bungan dengan apakah hal ini dikatakan? Dan apakah para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan apakah yang menyimpang dari dialek yang dikenal? dalam hal ini, para bhikkhu, pada daerah-daerah yang berbeda mereka mengenal (kata-kata yang berbeda) : Pati [235] … Patta … Vitha … Sarava … Dharopa …Pona … Pisila. Demikianlah sebagaimana mereka megetahui kata itu sebagai ini dan itu dalam berba­gai daerah yang berbeda demikian pula seseorang, yang dengan keras kepala melekat padanya dan mempertahankannya, menjelaskan: ‘Inilah yang benar, yang lainnya salah.’ Demikianlah, para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan menyimpang dari dialek dikenal. Dan apakah, para bhikkhu, yang tidak mempengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal? Dalam hal ini, para bhikkhu, pada daerah-daerah yang berbeda mereka mengetahui (kata-kata yang berbeda): Pati … Patta … Pona … Pisila, namun meskipun mereka mengetahui kata itu sebagai ini dan itu dalam berbagai daerah yang berbeda seseorang tidak melekat padanya namun menjelaskan: ‘Bhante ini secara pasti menjelaskannya demikian.’ Demikianlah, para bhikkhu, yang tidak menpengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal. Ketika dikatakan: “Seseorang tidak patut mempengaruhi dialek desa, seseorang tidak patut menyimpang dari dialek yang dikenal,’ hal itu dikatakan sehubungan dengan ini.

Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan keinginan terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang kebanyakan, tidak berhubun­gan dengan tujuan, inilah yang membawa kesusahan, gangguan, masa­lah, dan kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera namun tidak timbul dari keingi­nan akan kesenangan yang rendah … ini tidak menimbulkan kesu­sahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan keinginan terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, dan tidak berhubungan dengan tuan, inilah hal yang membawa kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di mana­pun, para bhikkhu, apapun yang tidak timbul dari keinginan terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhu­bungan dengan tujuan, ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. [236] Karenanya hal ini tidak kotor. Di mana­pun, para bhikkhu, Jalan Tengah itu dibangkitkan oleh Sang Tathagata, dibuat nampak, dijadikan pengetahuan, dan mendatangkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbana, inilah hal yang tidak membawa pada kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang menyetujui maupun tidak menyetujui dan bukannya ajaran Dhamma, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang bukan menyetujui maupun tidak menyetujui namun merupakan ajaran Dhamma, inilah yang tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu kebahagiaan dalam kesenangan indera, kebahagiaan yang kotor, kebahagiaan dari orang kebanyakan, kebahagiaan yang tidak luhur, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, kebahagiaan dari pelepasan, kebahagiaan dari pengasingan, kebahagiaan dari ketenangan, kebahagiaan dari kesadaran diri, hak ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang sesuai dengan kenyataan, benar, tetapi tidak berhubungan dengan tujuan, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, inilah yang tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) berha­dapan muka (dengan seseorang) yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang salah. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan yang menimbulkan kejengke­lan (yang dilakukan) berhadapan muka (dengan seseorang) yang sesuai dengan kenyataan, benar, namun tidak berhubungan dengan tujuan, inipun juga suatu hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan: inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, [237] ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) berhada­pan muka (dengan seseorang) yang sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, inilah hal yang tidak menimbulkan kesusa­han … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apa yang diucapkan seseorang dengan tergesa-gesa, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apa yang diucapkan oleh seseorang dengan tidak tergesa-gesa, hal ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan menyimpangkan dari dialek yang dikenal. Inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang salah. Karenanya hal ini kotor. Dimanapun, para bhikkhu, yang tidak mempengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal, hal ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor.

Di manapun, para bhikkhu, inilah cara bagaimana engkau harus melatih dirimu: ‘Aku akan mengetahui hal-hal yang kotor dan hal-hal yang tidak kotor, dan setelah mengetahui hal-hal yang kotor dan menge­tahui hal-hal yang tidak kotor, aku akan mengembara di jalan yang tidak kotor,’ Demikianlah, para bhikkhu, engkau melatih dirimu. Namun Subhuti, para bhikkhu, pemuda umat awam, telah berjalan di jalan yang tidak kotor.”

Demikianlah yang dikatakan Sang Buddha. Dengan puas, para bhikkhu bergembira dalam apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s