CERPEN

TANGISAN DIBAWAH JEMBATAN

Malam itu udara sangat dingin sekali, aku berjalan ditengah kota yang penat dan penuh dengan keramaian sambil menyaksikan fenomena keramaian kota, dengan merasa kedinginan aku berhenti disebuah warung pinggir jalan yang lumayan kotor, karna sangat dingin, aku memesan teh hangat dan makan makanan yang ada di warung itu. Seorang ibu penjual gorengan dengan mengendong orok di dekapanya memandangku dengan senyum bahagia,yah….mungkin saja ibu itu berpikir kedatanganku kewarungnya membawa rejeki buat anak-anaknya. setelah cukup lama di tempat itu aku melontarkan beberapa pertanyaan kepada ibu tersebut, Buk…kok sendirian memangnya bapak kemana, tanyaku..!!! Bapak sudah meninggal dua minggu yang lalu, terus aku bertanya lagi, Buk berarti ibu sekarang hanya tinggal berdua saja dengan anak ibu..?? ibu itu menjawab, tidak mas,,saya tinggal dengan kedua anak saya, maksud ibu itu anaknya yang pertama. Kemudian ibu itu bercerita tentang kisah hidupnya yang sangat panjang dan mungkin memang sangat melelahkan baginya walaupun anaknya yang besar sudah berumur 15 tahun dan bisa dibilang bahwa anak ibu tersebut sudah dapat sedikit membantu perekonomian keluarganya.

Tetapi aku memikirkan apakah yang bisa dikerjakan anak yang baru berumur 15 tahun disebuah kota besar, ibu itu melanjutkan ceritanya. Bapak dua minggu yang lalu meninggal karena sebuah penyakit yang saya sendiri tidak tau apa penyakit yang dideritanya, karna untuk membawa kerumah sakit saya tidak punya biaya jadi dengan keadaan yang sangat berat saya tetap merawat bapak ditempat itu. Disini aku timbul sebuah pertanyaan besar, karna ibu itu menyebut tempat itu dan tidak menyebut rumah, kemudian dengan berat hati saya bertanya kepada ibu itu. Memangnya ibu tinggal dimana kok rumah ibu, ibu sebut tempat itu. Ibu itu menjawab, mungkin mas kalau tau tempat tinggal saya akan kaget dan bahkan mungkin mas tidak akan mau ngobrol-ngobrol dengan saya seperti sekarang ini, dengan rasa penasaran saya yang besar saya terus mendesak ibu itu untuk menjawab pertanyaan saya, mungkin ibu itu merasa terdesak jadi ibu itu menjawab. Mas…saya tinggal dibawah jembatan dibawah sana, setelah ibu itu menjawab saya semakin penasaran dengan tempat tinggal ibu, bukan karna saya mau mengambil keuntungan tapi dengan sedikit cerita ibu tersebut saya sudah merasa iba.

Segelas teh hangat kemudian menyapa sekujur tubuhku yang  semenjak tadi di dera kelu dan seolah beku ditekan rasa lapar yang sangat,  Aku berfikir disitu, betapa berat penderitaan yang dialami ibu ini, ibu itu masih melanjutkan ceritanya. Mas dibawah jembatan itu bagi saya dan anak-anak saya berada disebuah istana yang sangat megah dengan bangunan yang sangat kokoh, walaupu kadang ada penertipan yang kadang jga berlaku kasar kepada saya dan anak-anak saya, ya..mungkin saja mereka menganggap kami hanya sampah yang tak berguna, tapi kalau tidak ditempat itu saya harus tidur dmana karna saya tidak punya keluarga yang dapat saya tumpangi jadi mau tidak mau saya harus tetap tinggal ditempat itu. Kadang saya juga menangis mas apabila anak-anak saya ingin jajan dan saya belum mempunyai uang yang cukup, untungnya anak saya yang besar sudah mengerti bahwa orang tuanya ada dalam kesusahan sehingga dia tidak pernah membikin saya kerepotan malahan kadang dia mau membantu saya cari uang walaupun dengan mengamen. Mendengar semua cerita ibu itu aku benar-benar merasa kasihan, terus terang aku udah lama tinggal dikeluarga yang cukup berada walaupun bisa dibilang aku hanyalah numpang karna aku seorang anak asuh dari kedu kelaurgaku, tapi setidaknya aku juga pernah merasakan kebahagiaan.

Ternyata tanpa terasa malam sudah larut dan ibu itu bilang kalau warungnya dah mau ditutup, wah……maaf ya buk ternyata saya sudah terlalu lama disini, setelah itu aku membayar semua makanan dan minuman yang aku nikmati dan akhirnya aku pulang, sepanjang perjalanan aku terus memikirkan keadaan ibu itu,,,benar-benar keadaan yang sangat tragis, baru kali ini aku mendapati orang yang setegar ibu penjual gorengan sepanjang perjalanan aku terus memikirkan keadaan ibu itu,,,benar-benar keadaan yang sangat tragis, baru kali ini aku mendapati orang yang setegar ibu penjual gorengan itu, aku terus berpikir dan berpikir, mengapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini pada ibu itu, padahal masih banyak yang mungkin lebih berada. Mengapa tidak mereka saja yang diberi cobaan.

Di tengah pikiranku yang melayang-layang tak jelas ternyata perjalananku sudah masuk dalam istanaku, yaitu rumah yang terang dengan lampu terpasang dimana-mana. Aku merasa lega sekali ketika memasuki rumah, tanpa pikir panjang aku langsung masuk kedalam kamar yang dihiasi dengan cat warna biru dan dengan wanginya pengharum ruangan yang selalu aku pajang disetiap sudut rumahku, disitu bayangan ibu itu tidak dapat aku lupakan seolah-olah ibu itu membayangi setiap gerakan mataku, tanpa aku sadari semuah air hangat yang menetes bagai gerimis keluar dari sela-sela tepian mataku, aku merasa sangat haru sekali dengan keadaan itu.

Pagi yang indah menyongsong dengan kicauan burung-burung dan indahnya bungga yang mekar ditaman depan rumahku, aku seolah-olah lupa dengan kejadian malam itu yang sangat membuatku sedih. Melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 aku langsung mandi dan berangkat ke kantorku, aku sangat bersemangat sekali pagi itu, karna ada satu proyek yang akan aku menagkan hari itu, tapi entah kenapa sesampainya dikantor aku merasa sangat gelisah dan bayangan ibu itu muncul lagi, sepertinya aku memang benar-benar tidak bisa melupakan ibu itu. Dalam sebuah kegelisahan aku terus bekerja untuk proyek yang aku impikan beberapa hari ini.

Waktu sangat cepat berlalu hari itu, aku pulang kerja dengan pikiran yang gundah, sesampainya dirumah aku mandi dan segera ketempat ibu penjual gorengan itu, tapi ternyata ibu itu tidak ada ditempat, aku binggung sekali, mengapa ibu ini tidak berdagang, apa mungkin anak ibu sedang sakit sehingga ibu ini libur jualan. Aku ingat ibu ini menceritakan tentang tempat tinggalnya, kemudian aku berpikir untuk mendatangi tempat kerja ibu ini. Dari kejauhan aku melihat kerumunan orang di bawah jembatan yang kotor dan bau sampah yang sangat menyengat itu, aku mendekatinya untuk mengetahui apa yang terjadi dan sekaligus untuk menanyakan tempat tinggal ibu itu. Seketika itu aku sangat kaget dengan pemandangan yang kulihat, ibu dan kedua anaknya sudah terbujur kaku ditempat yang sangat kumuh itu, aku sangat terpuruk sekali, walapun ibu itu bukan keluargaku atau orang yang dekat dengan aku tapi aku merasakan bahwa ada kedekatan yang berbeda, air hangat menetes disela-sela mataku dengan sendirinya, dan perasaan yang kacau menhuni setiap hembusan nafasku seperti ada sesuatu di dadaku yang sangat menganjal sehingga aku tak dapat bernafas. Ibu itu meninggalkan sebuah surat yang bertuliskan “aku pergi untuk menyusul suamiku ke surga, aku sudah tidak sanggup untuk menjalani kehidupan ini karna aku rasa sangat berat, untuk mengakhiri penderitaanku mungkin inilah jalan terbaik yang harus aku lakukan yaitu dengan meminum racun bersama-sama deengan kedua anak saya, saya mohon maaf untuk semua orang pernahsaya repotkan”.

Mulai saat itu aku sangat-sangat tidak mempunyai semangat untuk bekerja, aku orng yang dulunya periang sekarang menjadi seorang yang pendian dan suka melamun. Dua tahun kemudian aku pergi ke semarang untuk meninggalkan semua kenangan itu karna aku rasa dengan pergi dari tempat itu aku dapat melupakan kenangan-kenangan buruk yang pernah ada, ternyata benar, setelah aku sampai semarang aku mengenal seorang wanita cantik, perkenalanku sangat singkat karna dua bulan kemudian kami menikah dan akhirnya aku dapat melupakan semua kenangan dengan ibu itu dan merubah kenangan indah dengan seorang wanita yang kini menjadi pendamping hidupku.

Oleh: Warsito

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s