kumpulan syair lagu buddhis

“KELAHIRAN BUDDHA GAUTAMA”

Di taman lumbini yang indah
Menanti kelahiran Bodhisatva
Yang akan meninggalkan mahkotaNya,
Demi kes,lamatan manusia

Reff: Dhamma ajaranMu yang mulia
Kini beritakan kasih sayang
Dimana penuh kesadaran,
Satu jalan ke Nirvana

“ENAM TAHUN SENGSARA”

Enam tahun sengsara, di hutan uruvela
Sang Pangeran Siddharta, melawan mara bah,ya
Hati siapa tak pedih, badan kurus sekali
Hampir saja Bliau mati, karna menyiksa diri

“MALAM SUCI WAISAK”

Malam suci sunyi bulan purnama siddhi
Pada suatu hari waktu bulan waisak purnama
Sang Gotama Muni dibawah pohon bodhi
Duduk bersamadhi melaksanakan mawas diri

Reff:
Tercapailah Samyak nyata, pengetahuan sempurna
Parinibbana buah..nya leburlah avijja
Diketemukannya Arya Thangika Magga
Jalan tengah kramat tuk mencapai dukkha nirodha

“PARINIBBANA”

Di kusinara dibulan waisaka
Dibawah dua pohon sala yang kembar
Sang Buddha terbaring dengan agung dan mulia
Memberikan nasehat untuk yang terakhir kalinya

Reff:
Saat Parinibbana, saat wafatnya Sang Buddha
Semua makhluk terlena, terbuai dalam cengkraman dukkha
Para Bhikkhu bersujud memberikan penghormatan terakhir
Dewa pun turut bersujud, tebarkan harum semerbak, dihari parinibbana

Purnama siddhi di bulan waisaka
Guru Sang Buddha telah parinibbana
Seorang suci pemenang arus kehidupan
Pasti takkan jatuh
Dan mencapai penerangan sempurna

“BOROBUDUR”

Borobudur nan jaya di malam trisuci waisaka
Purnama Sidhi Borobudur… 4x

Nun disana cahya terang menembus mendut
Menembus Prambanan siapakah gerangan…
Bersemedi di puncakmu… adakah kau dengar
Nyanyi nirvana bergema…
Menembus gelap… menembus kelam
menembus sgala penjuru
Borobudur… Borobudur… Borobudur… Borobudur…

Bulan Waisaka purnama Sidhi tiga peristiwa terjadi
Siddharta lahir capai Sammasamadhi
Parinirvana… Parinirvana…
Borobudur… Borobudur… Borobudur… Borobudur…
Tetaplah Jaya 3x…

“BERKAH VAISAKA PUJA”

Smoga kita berbahagia
Karena berkah vaisaka puja
Smoga kita sekalian
Slalu didalam lindungannya

Reff:
Sang Tri Ratna Buddha Dhamma serta Sangha
Tingkatkan penghayatan kita
Tingkatkan amal bhakti kita
Pada Buddha Dhamma serta pancasila negara

Slamat berpisah ku ucapkan
Vaisak mendatang jumpa lagi
Jangan lupa kewajiban pada agama dan negara

Buddha Dhamma serta bangsa indonesia
Tingkatkan penghayatan kita
Tingkatkan amal bhakti kita
Pada Buddha Dhamma serta pancasila negara

“MARS BUDDHAYANA”

Bersatu kita dalam semangat buddhayana
Berbagi dan mengamalkan buddhadamma
Dengan kerja keras cerdas serta bijaksana
Hati penuh cinta kasih hiduppun bermakna

Reff:
Buddhayana wawasan kita semua
menempuh hidup yang mulya
Menghimpun umat bersatu padu
Dengan bersatu kita maju

Dhamma sesugguhnya hanya satu
Tak mendua
Bagaikan air samudra satu rasa
menuntun transformasi demi kebahagiaan
memberi inspirasi menuju pencerahan

“MANJUSRI GRAHA”

Manjusri graha pinuji……
AUM AH RAH PAT TSA NA DHI
Adiluhung agung prabawa ngenguwung
Budayaning bangsa nalika wangsa sanjaya
Wis nyawiji mbabar jati dhiri
Gumelaring candhi sasana graha Manjusri
Kasusra aglar papan wisata
Candi-candhi Sewu ambuka osiking kalbu
Memangun memayu binudi mrih rahayu
Sarwi asesanti AUM AH RA PAT TSA NA DI

“SEMANGAT BUDDHAYANA”

Gumregah Buddhayana lumadi trus jumangkah
Sedyane panggah jejeg luhuring manembah
Sumarah prasaja hasta aryamarga
Asih mring sasama nyingkiri watak candala
Mangkana babaring darma
Hanenuntun titi tentrem kerta harja
Poro kawulo saidhenging tri bawana
Semangat Buddhayana, rukun tresna mbudi mulya.

BAHAYA MEROKOK BAGI PENIKMAT DAN LINGKUNGANNYA

BAHAYA ROKOK

A. LATAR BELAKANG
“Merokok dapat menyebabkan kanker,serangan jantung,impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Kata-kata ini sering kita jumpai dalam kemasan rokok. Barang yang sangat disukai oleh kebanyakan kaum pria.
Walaupun mereka tau apa bahaya dari nerokok namun kebanyakan dari mereka tidak menghiraukannya. Mereka tak pernah jera untuk mengkonsumsi barang yang mengandung banyak racun yang sangat berbahaya untuk tubuh mereka. Tak hanya bebrbahaya untuk mereka saja melainkan juga untuk orang lain dilingkungan sekitar mereka.
Akan tetapi, mengapa banyak perokok yang tak menghiraukan at rokok begihal itu? Apa yang membutu spesial bagi mereka sehingga mereka tak bisa meninggalkannya?
Berikut kami uraikan tentang zat/bahan kimia yang terkandung dalam rokok dan apa pula bahaya merokok bagi penikmat dan lingkungannya.

B. TUJUAN
Tujuan mengapa kami menulis “Bahaya Merokok Bagi Penikmat Dan Lingkungannya” ini dikarenakan kami merasa prihatin karena sudah banyak anak muda yang terjerumus ke dalam bahaya racun rokok yang mulai mengerogoti tubuh mereka mulai dari pertama menghisapnya. Yang tanpa mereka sadari ternyata rokok yang mereka hisap tidak hanya merugikan diri merekaa sendiri, tapi juga merugikan orang lain.

C. PEMBAHASAN
Rokok mengandung zat/bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia. Zat/bahan berbahaya yang terkandung didalam rokok tidak dapat terurai didalam tubuh manusia, sehingga menumpuk didalam tubuh dan menjadi racun yang berbahaya bagi tubuh manusia.
Adapun zat/ bahan yang berbahaya yang terkandung didalam rokok, antara lain:
a) Nikotin
Nikotin adalah zat utama yang terdapat dalam tembakau.
Ciri-ciri nikotin :
• Sangat beracun
• Mudah diserap lewat kulit
• Berwarna kuning agak pucat dan jika terkena cahaya berwarna coklat.
Nikotin berfungsi sebagai stimulan yang mempercepat kegiatan didalam otak.
b) Tar
Tar adalah penyebab utama kanker paru-paru bagi perokok, sehingga disebut bersifat karsinogenik. Tar juga mengakibatkan penyakit pada tenggorokan dan pernafasan.
c) Karbon Monoksida
Karbon monoksida adalah gas yang sangat beracun dan berbahaya. Gas ini dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna, sehingga menyebabkan kadar karbon monoksida di dalam paru-paru lebih tinggi dibandingkan dengan menghirup udara tercemar.
Gas karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau. Di dalam darh gas CO lebih kuat daya pengikatnya dibandingkan dengan oksigen, kurang lebih 200 kali kuatnya. Akibatnya Hemoglobin (Hb) dalam darah lebih mudah mengikat gas CO dari pada gas oksigen. Reaksi Hemoglobin dengan CO adalah:
Hb + CO HbCO.
Jika Hb menikat gas CO maka HbCO yang terbentuk bersifat sangat stabil dan sulit terurai, sehingga Hb tidak dapat melepaskan CO dari ikatannya. Jika demikian, hb tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai sarana transportasi O2 dalam darah, bahkan darah akan teracuni oleh CO.
d) Zat/ bahan berbahaya lainnya
Sebenarnya didalam rokok ada lebih dari 4000 zat yang berbahaya selain yang disebutkan diatas diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Aseton adalah bahan utama penghapus cat dan cat kuku.
2. Metanol adalah bahan bakar roket.
3. Naftilamin adalah bahan penyebab kanker.
4. Pirene adalah penyebab kanker.
5. Dimentilnitrosamin adalah bahan penyebab kanker.
6. Naftalena adalah bahan kapur barus.
7. Kadmium adalah bahan yang dipakai pada aki mobil.
8. Benzopyrene adalah bahan penyebab kanker
9. Vinilklorida adalah bahan plastik PVC
10. Hidrogen Sianida adalah gas racun yang digunakan untuk melakukan hukuman mati di kamar gas.
11. Amonia adalah bahan pembersih lantai
12. Toluena adalah bahan pelarut industri
13. Arsenik adalah bahan racun tikus
14. Fenol untuk bahan plastik dan disinfektan atau pembunuh kuman
15. Butana adalah bahan bakar korek api
16. Polonium sebagai bahan radio aktif
17. Dll
Selain merugikan diri sendiri rokok juga dapat merugikan orang yang tidak merokok. Mereka yang tidak merokok, jika terus-menerus menghisap asap rokok dapat menderita penyakit seperti asma, kanker dan lain-lain.
Akibat yang ditimbulkan dari merokok, antara lain:
1) Pengaruh langsung setelah merokok yaitu peningkatan denyut jantung, berkeringat, nafas bau rokok, pusing, mual ingin muntah, dan pakaian bau asap rokok.
2) Pengaruh pada sistem pernafasan adalah bronkitis, kanker paru-paru, berdahak susah bernafas dan radang pernafasan.
3) Pengaruh pada sistem jantung dan pembuluh darah adalah tekanan darah tinggi, serangan jantung dan penyempitan pembuluh darah.
4) Pengaruh pada ibu hamil dan bayinya adalah keguguran pada janin, bayi yang dilahirkan berat badannya menurun dan pertumbuhan bayinya terhambat.
5) Pengaruh pada sistem pencernaan adalah usus dan lambung menjadi terluka.
6) Pengaruh pada sistem saraf adalah pembuluh darah menyempit dan stroke.
Penanggulangan pada pecandu rokok dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok sejak dini dan bagi para orang tua jaga pola pergaulan anak, arahkan ke hal-hal yang positif dan berikan kasih sayang yang lebih kepada anak.

D. KESIMPULAN
Dari data-data tersebut dapat kami simpulkan bahwa merokok dapat meracuni tubuh perokok dan juga orang yang menghirup asap rokok tersebut. Bahaya yang ada pada rokok juga sangat mematikan karena salah satunya dapat menyebabkan penyakit kanker.
Tapi merokok dapat ditangani yaitu dengan cara berikan penyuluhan-penyuluhan sejak dini tentang bahaya merokok, serta awasi pergaulannya, berikan hal-hal yang positif dengan begitu sedikit demi sedikit mereka dapat meninggalkan rokok.
Berikut kami sediakan kolom kritik dan saran untuk menampung aspirasi anda untuk melengkapi tulisan kami. Sehingga tulisan kami dapat bermanfaat bagi semuanya.
Kritik:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Saran:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA
http://www.bahaya merokok.com
Mulyono.dkk.2008.IPA SAINS KELAS 2.Jakarta.Gramedia

gunung merapi

awan panas, letusan keras memekakkan telinga, hujan abu tebal dari sang gunung yang penuh dengan mitos. merapi yang sangat menggila, sang penunggu yang setia menjaga gunung merapi ikut menjadi korban keganasan gunung merapi, dengan posisi bersujud sang penunggu merapi meninggal dunia. desa yang di tempati Mbah Maridjan ikut hancur, terbakar bersama meletusnya gunung yang legendaris itu. bukan itu saja, desa yang ada di sekeliling gunung merapi juga ikut hancur oleh terjagan wedus gembel dari puncak merapi. banyak korban berjatuhan, selain meninggal dunia juga korban luka bakar yang sangat serius, ternak merekapun sudah tak dapat diselamatkan, ratusan hewan ternak ikut hangus. saat ini warga yang berada di puncak merapi sudah mengungsi di tempat yang lebih aman sekitar 20 km dari puncak merapi. sekarang yang menjadi pertanyaan, siapa yang akan bertanggung jawab atas peristiwa ini???apakah kita harus menyalahkan alam,,,,,
TEMUKAN JAWABANNYA DI HALAMAN BERIKUTNYA

SMB sekolah minggu buddhis

UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan agama dan keagamaan
SK Dirjen Bimas Buddha tentang Sekolah Minggu Buddhis
Suatu ilmu seni tentang perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha organisasi dan penggunaan sumberdaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan……..
Mengapa perlu……?
Untuk mencapai tujuan……..
Menjaga keseimbangan antara tujuan tujuan yang yang saling bertentangan……….
Untuk mencapai efisiensi (tujuan tepat) dan efektifitas (pekerjaan yang benar).
MANAJEMEN

– Merencanakan
– Mengorganisasikan
– Mengendalikan SUKSES
Mengarahkan
Mengonrol/pengawasan.

MANAJEMEN

– Merencanakan
– Mengorganisasikan
– Mengendalikan SUKSES
Mengarahkan
Mengonrol/pengawasan.

ORIENTASI GURU SEKOLAH MINGGU BUDDHIS

PP No. 55 Tahun 2007
Sekolah Minggu Buddha merupakan kegiatan belajar mengajar nonformal yang dilaksanakan di Vihara atau Cetya setiap hari Minggu secara rutin.
Sekolah Minggu Buddha bertujuan untuk menanamkan saddha/sraddha dan bhakti peserta didik dalam rangka meningkatkan keimanan umat Buddha secara berkesinambungan.
Sekolah Minggu Buddha merupakan pelengkap atau bagian dari pendidikan agama pada satuan pendidikan formal.
Kurikulum Sekolah Minggu Buddha memuat bahan kajian Paritta/Mantram, Dharmagita, Dhammapada, Meditasi, Jataka, Riwayat Hidup Buddha Gotama, dan Pokok-pokok Dasar Agama Buddha.
Tenaga Pendidik pada Sekolah Minggu Buddhis mencakup Bhikkhu/Bhiksu, Bhikkhuni/Bhiksuni, Samanera/Sramanera, Samaneri/Sramaneri, Pandita, Pendidik Agama, atau yang berkompetensi.
Pendidikan Agama
Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Pendidikan Keagamaan
Pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.
Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.
Pendidikan keagamaan bertujuan untuk terbentuknya peserta didik yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang berwawasan luas, kritis, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Konsep Pendidikan Buddhis
Terminologi “Sikkha” (education)
Dalam pengertian Buddhis manusia adalah “makhluk belajar”.
Seluruh kehidupan sebagai proses belajar.
Buddhisme merupakan suatu “Sistem Pendidikan” dengan gagasan bahwa manusia memiliki potensi untuk benar-benar membebaskan diri dari semua penderitaan melalui pemahaman benar (sammaditthi).
Penekanan pendidikan Buddha mengajar anak-anak cara belajar, cara menikmati belajar, untuk mencintai kebijaksanaan demi kepentingannya sendiri.
Memberlajarkan kematangan emosional yang memungkinkan untuk memanfaatkan pengetahuan, menciptakan kehidupan yang bahagia bagi diri sendiri, dan keluarga, serta memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat.
Apa Managemen
Proses pengkoordinasian aktivitas kerja beberapa orang, sehingga kerja bisa terselesaikan secara efektif dan efisien
Suatu proses merencana, mengorganisasi, mengarahkan, mengkoordinasi secara efisien dan efektif.
Konsep Managemen
Manajemen merupakan ilmu dan seni mengelola sumber daya secara efesien dan efektif melalui kerjasama orang lain untuk mencapai tujuan bersama secara sistemik, dengan pembagian fungsi dan tugas yang rasional antara atasan dan bawahan sesuai proporsinya masing-masing
Kelembagaan
Kelembagaan itu bisa dimaknai sebuah bentuk organisasi formal untuk pencapaian tujuan bersama didalamnya tedapat hubungan interaksi yang teratur dan terkoordinasi secara integral pada suatu kelompok orang yang disebut atasan dan sekelompok orang yang disebut bawahan dengan masing-masing fihak mampu meminimalisir resiko dari sebuah wewenang dan tanggung jawab yang di emban.
Tujuan SMB Mahachulalongkorn Buddha College Thailand
1. Untuk menjadikan pemuda dan anak-anak akrab dengan Buddhisme.
2. Untuk menanamkan disiplin moral dan apresiasi budaya pada pemuda dan anak-anak.
3. Untuk mengajar para pemuda dan anak-anak menjalani kehidupan mereka sesuai dengan prinsip-prinsip Buddha.
4. Untuk melatih para pemuda dan anak-anak bekerja untuk kesejahteraan umum.
Manajemen Bebasis SMB
SMB merupakan pengembangan pendidikan non formal yang memiliki nilai lebih dari sekedar sumber keilmuan bahkan menjadi agent of change selain dari pada itu terdapat beberapa hal yang bersifat secret yang sangat perlu kita pelajari.
SMB lembaga pendidikan Buddhist yang umumnya dengan cara non-klasikal, pengajarnya seorang yang mempunyai ilmu agama Buddha, melalui kitab-kitab Tipitaka/Tripitaka.
SMB memiliki unsur-unsur pokok yaitu rohaniawan/tenaga pengajar, siswa, vihara/cetya, kelas/tempat khusus, dan pengajaran kitab-kitab Buddhis.
Indikator Manajemen Bebasis SMB
1.Partisipasi masyarakat diwadahi melalui pengurus vihara, organisasi pemuda, majelis, dan Sangha.
2.Transfaransi pengelolaan SMB (program dan anggaran)
3.Program SMB realistik – need assessment
4.Pemahaman stakeholder mengenai Visi dan Misi SMB
5.Lingkungan fisik SMB nyaman, terawat.
6.Iklim SMB kondusif
7.Berorientasi mutu, penciptaan budaya mutu
8. Meningkatnya kinerja profesional kepala sekolah dan guru
9. Kepemimpinan SMB berkembang demokratis
10. Upaya memenuhi fasilitas pendukung KBM
meningkat
11. Kesejahteraan guru meningkat
13. Pelayanan berorientasi pada siswa SMB.
Tujuan Manajemen Bebasis SMB
Meningkatkan mutu belajar siswa smb,
Menguatkan kapasitas pemimpin dan pengelola SMB,
Membangun partisipasi masyarakat, dan
Memungkinkan terjadinya pengambilan keputusan di tingkat lokal berdasarkan kebutuhan lokal.
Lembaga SMB Profesional
Pertama, pembaharuan dalam aspek regulasi, kelembagaan, manajemen, dan organisasi SMB.
Program yang berkenaan dengan pendidikan dan pembelajaran, bidang peralatan dan pergedungan, bidang sumber dana, bidang kaderisasi, serta bidang kesejahteraan .
Urusan keuangn menjadi tanggung jawab mandiri, terdiri dari peran pengurus senior dan guru yang secara periodic bisa diganti. Dengan demikian, pengaturan jalannya organisasi pendidikan menjadi dinamis, terbuka, dan objektif.
Kedua, pembaharuan dalam bidang kurikulum, kontektual dengan kehidupan nyata sekarang/kini.
Ketiga, pembaharuan metode dan system pendidikan.
Pengembangan aspek fisik, sosial, mental, dan intelektual.
Keseimbangan lima aspek: spiritual, intelektual, social, dan emosional.

kamar penuh cinta

kamar penuh cinta

ABHAYARAJAKUMARA SUTTA

(Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya II,
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha,
Penerbit : Proyek Sarana Kehidupan Beragama Buddha Departemen Agama RI, 1994)
1. Demikianlah yang saya dengar.
Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Veluvana, Kalandakanivapa, Rajagaha.
2. Kemudian Pangeran Abhaya pergi menemui Nigantha Nataputta, sesudah memberi hormat kepadanya, ia duduk di tempat yang tersedia, setelah ia duduk, Nigantha Nataputta berkata kepadanya:
3. “Marilah, Pangeran, buktikanlah bahwa teori dari Samana Gotama adalah salah, suatu berita yang baik darimu akan menyebar karena dampak ini. Teori dari Samana Gotama, yang penuh sukses serta perkasa seperti beliau itu, telah dibuktikan salah oleh Pangeran Abhaya.”
“Guru, tetapi bagaimana saya membuktikan bahwa teori dari Samana Gotama adalah salah, sedangkan beliau adalah penuh sukses ?”
4. Pangeran, pergilah kepada Samana Gotama dan katakan begini: “Bhante, akankah seorang Tathagata akan mengucapkan ucapan sedemikian yang tidak disukai dan tidak disetujui oleh orang-orang lain.” Maka katakan kepadanya demikian: “Bhante, apa perbedaan antara kamu dengan orang-orang biasa? Bagi seorang biasa, ia juga mengucapkan ucapan yang disukai dan tidak disetujui oleh orang-orang lain.” Tetapi apabila Samana Gotama ketika ditanya seperti itu, kemudian menjawab: “Pangeran, seorang Tathagata tidak akan mengucapkan kata-kata yang tidak disukai serta tidak disetujui oleh orang-orang lain,” maka katakanlah kepadanya: “Bhante, mengapa Devadatta telah masuk ke dalam neraka, Devadatta akan tinggal di neraka, untuk Devadatta tidak dapat diperbaiki? Devadatta telah terganggu dan merasa tidak puas dengan ucapan-ucapan-Mu.” Ketika Samana Gotama telah disudutkan dengan pertanyaan bertanduk dua ini, Beliau tidak akan menelannya masuk atau menyemburkannya ke luar. Apabila sebuah jambangan yang bertahtakan paku-paku itu tersumbat di dalam kerongkongan seseorang, ia tak mungkin untuk dapat menelannya ke dalam atau menyemburkannya ke luar demikian juga Pangeran, apabila Samana Gotama dipojokkan oleh pertanyaan yang bertanduk dua ini olehmu, Beliau tidak mungkin menelannya ke dalam maupun menyemburkannya ke luar.”
5. “Ya, Guru,” jawab Pangeran Abhaya. Ia berdiri dan setelah memberi hormat kepada Nigantha Nataputta, ia pergi melalui sisi kanan. Ia pergi menemui Tathagata, sesudah memberi hormat kepada Beliau, ia duduk di tempat yang tersedia. Ketika ia telah melakukan hal itu, ia melihat pada matahari dan ia berpikir: “Hari ini adalah sudah terlambat untuk membuktikan teori Sang Bhagava adalah salah. Aku akan membuktikan teori Sang Bhagava salah di rumahku sendiri besok pagi.” Lalu ia berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, silahkan Sang Bhagava beserta tiga bhikkhu lainnya menerima hidangan makanan besok pagi diriku.” Sang Bhagava menerima undangan tersebut dengan bersikap diam.
6. Selanjutnya, setelah ia mengetahui bahwa Sang Bhagava telah menerima undangannya itu, Pangeran Abhaya bangkit dari duduknya, dan setelah memberi hormat kepada-Nya, dengan berjalan di sisi kanan Beliau, ia pergi meninggalkan tempat itu.
7. Ketika malam telah berakhir, di pagi hari, Sang Bhagava mengenakan jubah, sambil membawa patta serta jubah (luarnya), Beliau pergi ke rumah Pangeran Abhaya dan duduklah di tempat yang telah disediakan. Kemudian dengan tangannya sendiri Pangeran Abhaya melayani serta memuaskan Sang Bhagava dengan berbagai hidangan makanan. Kemudian setelah Sang Bhagava selesai makan dan di tangan beliau sudah tidak lagi memegangi patta, Pangeran Abhaya mengambil tempat duduk yang lebih rendah dan ia duduk di situ. Setelah ia duduk, ia berkata:
8. “Bhante, apakah seorang Tathagata akan mengucapkan ucapan yang tidak disenangi serta tidak disetujui oleh orang-orang lain?”
“Untuk itu tidak ada (jawaban) yang langsung, Pangeran.”
“Bhante, oleh karena itu Nigantha telah kalah dalam hal ini.”
“Pangeran, mengapa kamu berkata ‘Bhante, oleh karena itu Nigantha telah kalah dalam hal ini?’ ”
9. Kemudian Pangeran membabarkan kembali pembicaraannya dengan Nigantha Nataputta.
10. Pada kejadian itu seorang anak kecil yang lemah sedang duduk di atas pangkuan Pangeran Abhaya. Kemudian Sang Tathagata berkata kepada Pangeran Abhaya: “Pangeran, bagaimana kamu membayangkan hal ini. Apabila anak ini, pada waktu kamu atau perawat anak ini tidak ada, memasukkan sepotong kayu atau sebutir batu di dalam mulutnya, apa yang akan kamu lakukan kepadanya ?”
“Bhante, aku harus mengeluarkan benda itu dari mulutnya. Apabila aku tidak bisa mengambilnya dengan segera, aku akan memegang kepalanya dengan tangan kiri dan menekuk jari tanganku, aku akan menarik benda tersebut keluar dari dalam mulutnya, sekalipun hal itu akan menimbulkan pendarahan pada bayi itu. Mengapa ? Sebab aku sayang pada anak itu.”
11. “Pangeran, demikian juga dengan ucapan atau kata-kata semacam itu yang diketahui oleh Tathagata bukan mewakili apa keadaannya tidaklah sesuai dengan kebenaran dan tidak berhubungan dengan kebaikan, ucapan mana adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain. Tathagata tidak mengatakan ucapan-ucapan semacam itu. Ucapan semacam itu yang diketahui oleh Sang Tathagata mewakili apa keadaannya, sesuai dengan kenyataan, tetapi tidak berhubungan dengan kebaikan, juga ucapan ini adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka ucapan-ucapan itu tidak diucapkan oleh Tathagata. Ucapan Tathagata ketahui mewakili apa keadaannya, sesuai dengan realita, berhubungan dengan kebaikan, tetapi ucapan itu adalah tidak disenangi dan tidak disetujui oleh orang-orang lain, maka Tathagata tahu waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu. Ucapan yang diketahui oleh Sang Tathagata, tidaklah mewakili keadaan, tidak cocok dengan realita dan tidak berhubungan dengan kebaikan tetapi ucapan itu disetujui oleh orang-orang lain : ucapan semacam itu tidak diucapkan oleh Sang Tathagata. Ucapan yang diketahui oleh Sang Tathagata, mewakili keadaannya sesuai dengan realita, tetapi tidak berhubungan dengan kebaikan, ucapan ini disenangi dan disetujui oleh orang-orang lain; ucapan semacam itu tidak diucapkan oleh Sang Tathagata. Ucapan yang diketahui Tathagata, mewakili keadaannya, tidak sesuai dengan realita dan berhubungan dengan kebaikan, juga ucapan ini disenangi dan disetujui oleh orang-orang lain; Tathagata mengetahui waktu yang tepat untuk menggunakan ucapan itu. Mengapa ? Sebab Tathagata mempunyai rasa kasih sayang terhadap makhluk-makhluk itu.”
12. “Bhante, apabila para ksatria cendekiawan, brahmana cendekiawan, perumah tangga cendekiawan dan para cendekiawan menetapkan suatu pertanyaan yang telah dirumuskan dan kemudian pergi menemui Sang Bhagava serta menanyakannya. Apakah sudah ada di dalam pikiran Sang Bhagava: ‘Siapa saja yang datang kepadaku dan bertanya seperti itu, saya akan menjawabnya seperti ini.’ Atau apakah (jawaban) itu terjadi pada saat pertanyaan itu diajukan kepada Sang Tathagata?”
13. “Pangeran, apabila itu halnya, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu sebagai balasan; jawablah sesuka hatimu. Bagaimana kamu menanggapi hal ini, apakah kamu ahli dalam pengetahuan tentang bagian-bagian dari kereta perangmu?”
“Ya, bhante.”
“Pangeran, bagaimana kamu menanggapinya, apabila orang-orang datang kepadamu dan bertanya: ‘Apa nama bagian ini dari kereta perangmu?’ Apakah sudah ada di dalam pikiranmu, siapa saja yang datang kepadaku dan bertanya seperti ini, aku akan menjawabnya begini, atau (jawaban) itu terjadi pada saat ditanyakan”
“Bhante, aku sangat terkenal sebagai seorang pengendara kereta yang pandai sekali dalam pengetahuan tentang bagian-bagian kereta itu. Semua bagian-bagian dari kereta telah aku ketahui dengan baik. Jawaban itu akan muncul pada saat pertanyaan diajukan.”
14. “Pangeran, demikian juga, apabila para ksatria cendekiawan, para brahmana cendekiawan, para perumah-tangga cendekiawan atau para petapa cendekiawan menetapkan suatu pertanyaan yang telah dirumuskan dan kemudian menemui Tathagata dan menanyakan kepadanya, (jawabnya) Tathagata terjadi pada saat itu juga. Mengapa? Karena unsur tentang dhamma telah sepenuhnya ditembus oleh Sang Tathagata dan disebabkan sepenuhnya dari unsur-unsur dhamma, maka jawaban Tathagata terjadi pada saat itu juga.”
15. Ketika hal ini telah diucapkan, Pangeran Abhaya berkata: “Luar biasa, Guru Gotama …. (lihat [4] Bhayabherava Sutta) …. sejak hari ini, ketahuilah saya sebagai upasaka yang telah berlindung kepada beliau sepanjang hidup.”

PROSES KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA

PROSES KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA
oleh: Warsito

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelahiran kembali merupakan proses kehidupan yang tidak dapat dielakkan lagi karma proses kelahiran adalah suatu hokum alam. Dalam agama Buddha kelahiran kembali dinyatakan sebagai renkarnasi, renkarnasi disini bukan jiwa kita yang hidup sekarang ini yang kelak akan terlahir kembali akan tetapi jiwa kita atau buah karma kita yang akan mengalami kelahiran kembali sehingga ada seseorang yang mampu mengingat kelahiran kembali karma ada seseorang yang mampu menyatakan bahwa dia pernah hidup disuatu tempat dan dia benar-benar hidup karma orang ini dapat membuktikannya.
Berdasarkan pada urraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari proses kelahiran kembali, karma proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang (dalam kandungan saat terjadi pembuahan) kehidupan baru sebagai berikut:
1. Patisandhi Vinnana
2. Bhavanga Citta
3. manodvaravajjana
4. Javana
5. Bhavangga citta
Menurut pandangan agana Buddha, bumi kita ini hanya merupakan titik kecil saja dialam semesta, dengan demikian bumi ini bukan satu-satunya tempat makhluk hidup yang berenkarnasi atau mengalami proses kelahiran.
A. Rumusan Masalah
a. Mendiskripsikan proses kelahiran?
b. Apa penyebab tumimbal lahir itu?
c. Sebab-sebab kelairan unggul sebagai manusia?

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk menumbuhkan keyakinan dan menambah pengetahuan bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Sehingga penulis dan pembaca dapat mengetahui proses kelahiran yang sesungguhnya dan betapa susah terlahir sebagai manusia. Maka dari makalah ini penulis berusaha untuk mengumpulkan resensi dari buku-buku dan internet sehingga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses kelahiran
manusia memnganggap bahwa seorang yang telah mengalami kematian akan musnah badan jasmaninya dan akan masuk surga atau neraka jiwanya akan tetapi dalm pandangan agama buddha manusia yang meninggal akan mengalami kelahiran kembali baik sebagai manusia, binatang bahkan akan ada yang terlahir dialam yang tidak menyenagkan. Dalam agama buddha kelahiran kembali dipengaruhi oleh karma yang diperbuat apabila dalm kehidupannya berbuat kebaikan maka dalam kehidupan yang berikutnya akan kembali terlahir sebagai manusia bahkan akan dapat terlahir dialam yang lebih menyenagkan sebagai misal terlahir dialam dewa.
Umat buddha menganggap doktrin tumimbal lahir tidak hanya semata-mata teori , tetapi sebagai kenyataan yang dapat dibuktikan. Kepercayaan akan kebenaran tumimbal lahir akan membentuk suatu prinsip fundamental Buddhisme. Namun demikian, kepercayaan tumimbal lahir tidak terbatas pada umat Buddha saja; hal ini juga ditemukan dinegara lain, di negara lain, diagama lain, dan bahkan diantara pemikir bebas. Pythagoras dapat mengingat kelahirannya sebelunya. Plato dapat meningat sejumlah kehidupan sebelunya. Menurut Plato, manusia dapat dilahirkan kembali hanya dalam 10 kali. Plato juga percaya pada kemungkinan tumimbal lahir dalam dunia binatang. Diantara masyarakat kuno di Mesir dan Cina, ada suatu kepercayaan umum bahwa hanya pribadi yang terkenal yang dapat bertumimbal lahir. Ini sangat berbeda dengan pandangan agama Buddha bahwa manusia dapat bertumimbal lahir karna karma yang ia perbuat dan bukan karna terkenal atau tidak terkenal orang tersebut.
Pejabat kristen terkenal bernama Origen, yang hidup pada 185-254 M, percaya akan tumimbal lahir. Menurutnya, tidak ada penderitaan abadi di neraka tapi disini juga ada sedikit perbedaan dengan agama Buddha, baahwasannya di agama buddha mengenal neraka yang biasa dengan disebut neraka avicci yaitu neraka bagi orang-orang yang mempunyai kesalahan terbesar misalnya memecah belah anggota sangha, membunuh orang tua, dan sebagainya dan manusia yang terlahir dialam ini kesalahannya tidak dapat diampuni dan tidak dapat dilahirkan kembali bahkan seorang dewa yang akan menyelamatkannya. Gorana Bruno, yang hidup pada abad ke enam belas, percaya bahwa setiap orang dan binatang berpindah dari makhluk ke makhluk lainnya.
Ada hal yang mungkin tapi tidak mudah bagi kita untuk benar-benar membuktikan kehidupan silam kita. Sifat pikiran yang sedemikian rupa, tidak memungkinkan kebanyakan orang untuk mengingat kehidupannya sebelumnya. Pikiran kita dikuasai oleh lima rintangan: keinginan indrawi, niat buruk kemalasan, kegelisahan, dan keragu-raguan. Karena rintagan-rintangan ini, pandangan kita jadi terbatas dan karenanya kita tidak dapat menggambarkan tumimbal lahir. Sama dengan cermin tidak memancarkan suatu citra apabila cermin tersebut tertutup dengan debu, demikian juga pikiran tidak memungkinkan kebanyakan orang untuk mengingat kehidupan sebelumnya. Kita tidak dapat melihat bintang-bintang di siang hari, bukan karena bintang itu tidak ada dilangit, tapi karena bintang itu terterangi oleh sinar matahari. Sama halnya, kita tidak dapat mengingat kehidupan kita sebelumnya karena pikiran kita saat ini selalu dibebani dengan banyak pikiran dalam peristiwa dari hari-kehari dan suasana pada umumnya.
Pertimbangan akan singkatnya masa hidup kita dibumi akan membantu kita untuk merefleksikan tumimbal lahir. Jika kita mempertimbangkan hidup, makna dan tujuan tertingginya, dan semua ragam pengalaman yang mungkin bagi manusia, kita harus mentimpulkan bahwa dalam satu kehidupan tunggal tidaklah cukup waktu bagi seorang untuk mencapai semua yang ia dapat lakukan atau inginkan.
Doktrin umat buddha tentang tumimbal lahir harus dibedakan dari ajaran tentang perpindahan dan reinkarnasi agama lain. Buddhisme tidak seperti Hinduisme, menolak keberadaan suatu jiwa diciptakan Tuhan yang permanen atau suatu entitas tak berubah yang pindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain.
Seperti halnya identitas relatif dimungkinkan oleh kesinambungan kausal tanpa suatu diri atau jiwa, demikian juga kematian dapat terjadi dalam tumimbal lahir tanpa suatu perpindahan jiwa. Dalam suatu kehidupan tunggal, setiap saat pikiran masuk dan keluar dari suatu makhluk, membangkitkan penerusnya dengan kebinasaanya. Secara tegas, momentum yang timbul dan lenyap di pikiran ini adalah kelahiran dan kematian. Jadi bahkan dalam satu kehidupan tunggal kita mengalami kelahiran dan kematian dalam jumlah tak terhingga setiap detik. Tetapi karena proses mental berlanjut dengan dukungan satu tubuh fisik yang tunggal, kita menganggap kesinambungan pikiran-tubuh sebagai satu kehidupan tunggal.
Berdasarkan pada urraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari proses kelahiran kembali, karma proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang (dalam kandungan saat terjadi pembuahan) kehidupan baru sebagai berikut:
1. Patisandhi Vinnana
Patisandhi vinnana adalah kesadaran kelahiran kembali. Dalam uraian tentang proses kematian, patisandhi vinnana disebutkan pada urutan proses bagian terakhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinnana terjadi pada pikiran orang yang akan meninggal dunia itu. Tetapi penyebutan patisandhi vinnana dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukkan proses sebab-akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinnana hanya merupakan akibat dari maranasanna javana citta. Patisandhi vinnana hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran rari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinnana muncul pada ovum yang baru diabuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung (untuk bayi tabung). Berkenaan dengan adanya patisandhi vinnana terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani (kaya dasaka), kelompok sepuluh dari kelami (bhava dasaka) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran (vatthu dasaka).
Kaya dasaka terdiri dari 1. Elemen, 2. elemen cair, 3. elemen panas, 4. elemen gas, 5. warna, 6. bau, 7. rasa, 8. sari makanan, 9. inderiya kehidupan, 10. tubuh (yaitu bagian tubuh yang peka-pasada).
Bhava dasaka terdiri dari 1-9 seperti dalam kaya dasaka dan 10. kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1-9 seperti pada kaya dasaka dan 10. kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhist, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan akan tetapi kelamin belum berkembang pada saat pembuahan, tetapi kelamin adalah latent.
Jadi dengan ada patisandhi vinnana maka kombinasi jasmani-batin baru mulai bekembang dalam kandungan atau tabung. Sperma-ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinnana menyiapkan batin. Patisandhi vinnana yang berhubungan kehidupan yang baru dan kehidupan yang lalu. Proses kesadaran tidak pernah berhenti. Kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal proses terus dan menghasilkan kesadaran lain itu adlah patisandhi vinnana yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.
Ada beberapa macam cara kelahiran kembali, dinyatakan pula bahwa ada 4 macam cara kelahiran kembali dari makhluk-makhluk, yaitu:
1. Jalabuja, yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan, seperti manusia dan binatang-binatang tertentu.
2. Andaja, yaitu makhluk yang lahir melalui telur,seperti unggas, ular (kecuali king snack, di amerika selatan yang melahirkan anak), buaya, dan binatang lain.
3. Samsedaja, yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja, seperti binatang tingkat rendah.
4. Opapatika, yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya: para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk-makhluk alam Brahma.

1. Bhavanga Citta
Setelah patisandhi vinnana lenyap, Bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu. Itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancer tanpa ada gangguan.
2. manodvaravajjana
Telah disebutkan diatas bahwa bhavangga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap. Kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir langsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embriyo karena kehidupan barunya.
3. Javana
Segera setelah manodvaravajjana lenyap, Javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada Manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru (Bhava-nikanti Javana). Javana bergetar selama 7 saat lenyap.
4. Bhavangga citta
Ketika Javana lenyap, Bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta berhenti setelah bayi dalam kandungan mulai berpikir, karena mengalami perubahan kondisinya dalam kandungan.
B. Apakah penyebab tumimbal lahir itu?
Sang Buddha mengajarkan bahwa ketidak tahuan akan sifat sejati kehidupan menghasilkan nafsu. Nafsu yang tak terpuaskan adalah sebab tumimbal lahir. Saat semua nafsu yang tak terpuaskan terpadamkan, maka tumimbal lahir akan berakhir, manusia seharusnya menghilangkan nafsu-nafsu indria untuk memutuskan roda tumimbal lahir akan tetapi hal ini bukan suatu yang mudah sehingga sangat jarang manusia yang mampu memutus nafsu-nafsu keinginan untuk mencapai kehidupan yang tidak bertumimbal lahir lagi atau dalam kata lain disebutkan mencapai suatu kesucian. Semua manusia mengharapkan kesucian akan tetapi mereka sangat susah untuk menghilagkan nafsu-nafsu keinginan yang melekat pada diri mereka. Memadamkan tumimbal lahir berarti memadamkan semua nafsu. Untuk memadamkan nafsu, perlu untuk menghancurkan ketidaktahuan. Saat ketidaktahuan hancur, ke-tidak-berharga-an setiap tumimbal lahir akan dirasakan, serta hasrat memuncak untuk mengambil suatu kehidupan semacam itu dapat diakhiri.
Ketidaktahuan juga memunculkan ide ilusifdan tak logis hanya ada satu keberadaan manusia, dan ilusi lain bahwa satu kehidupan ini diikuti oleh keadaan permanen akan kesenangan atau siksaan abadi.
Sang Buddha mengajarkan bahwa ketidaktahuan dapat dihilagkan dan kesedihan dapat disingkirkan dengan menyadari empat kesunyataan mulia yaitu Dukkha, Sebab Dukkha, Lenyapnya Dukkha, dan Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha. Untuk membasmi semua ketidaktahuan seorang harus bertekun dalam praktik luhur kelakuan, intelektual dan kebijaksanaan. Seseorang juga harus menghancurkan semua nafsu akan kesenangan pribadi dan nafsu mementingkan diri.
Saat tubuh fisik ini tidak mampu lagi berfungsi, energi tidak mati bersamnaya, tetapi terus berlangsung untuk mengambil bentuk lainny, yang kita sebut kehidupan lain. Kekuatan karma yang mewujudkan dirinya sendiri dalam bentuk manusia juga dapat terwujud dalam bentuk hewan. Hal ini dapat terjadi jika orang tidak berkesempatan mengembangkan kekuatan karma positifnya. Kekuatan ini, yang disebut nafsu, hasrat, kehendak, haus akan hidup, tidak berakhir dengan tidak berfungsinya tubuh, tatapi terus mewujudkan diri dalam bentuk lain, menghasilkan keberadaan kembali.hal ini disebut tumimbal lahir atau kembali menjadi. Umat Buddha tidak menyebutnya “reinkarnasi” karena tidak ada entitas atau jiwa permanen yang pindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Tumimbal lahir atau menjadi lagi dan lagi adalah kejadian alami yang tidak diciptakan agama atau dwa tertentu. Percaya atau tidak percaya akan tumimbal lahir tidak membuat perbedaan bagi proses tumimbal lahir atau mencegah tumimbal lahir. Tumimbal lahir terjadi selama nafsu akan keberadaan dan kesenangan indrawi atau kemelekatan ada dalam pikiran. Energi mental yang kuat itu berlaku pada setiap dan semua makhluk hidup dialam semesta ini. Mereka yang berharap dan berdo’a agar mereka tidak bertumimhbal lahir harus memahami bahwa harapan mereka tidak akan terwujud sampai mereka mslakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mebasmi nafsu dan kemelekatan dalam pikiran mereka. Setelah melihat ketidak pastian dan ketidakpuasan kehidupan dalam kondisi duniawi ini, orang bijaksana mencoba melepaskan diri dari perulangan kelahiran dan kematian dengan mengikuti jalan permunian mental yang benar. Mereka yang tidak mapu menguragi nafsu dan kemelekatannya harus siap untuk menghadapi semua ketidakpuasan dan situasi tak menentu yang menyertai tumimbal lahir dan untuk menjadi lagi dan lagi.
C. Sebab-Sebab kelahiran unggul sebagai manusia?
Untuk memperoleh suatu bentuk kelahiran sebagai manusia yang bebas dan terberkahi adalah sulit karena bentuk kelahiran sebagai manusia ini memerlukan kehadiran secara bersama-sama semua penyebab-penyebabnya. Sebab pertama adalah praktik disiplin moral yang murni, kedua adalah praktik dari enam kesempurnaan. Lebih jauh lagi, kita perlu memanjatkan do’a dengan motifasi yang murni. Masing-masing dapat bertanya pada dirinya sendiri apakah kita sedang meproduksi berbagai sebab ini. Untuk menentukan apakah kita sedang mempraktikkan semua disiplin moral yang murni, kita tidak perlu meminta pendapat orang lain.nkita memeriksa tingkah laku kita sendiri. Untuk melakukannya, kita dapat melihat tingkah laku kita dalam waktu satu hari. Kita akan coba memeriksa apa yang terjadi dalam pikiran kita dari waktu kita bagun dipagi hari sampai sekarang. Kita akan memeriksa apakah pikiran kita telah disiplin, dipengaruhi oleh faktor-faktor mental pengganggu, atau dalam satu keadaan yang netral. Kita harus mengukur berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam keadaan pikiran bajik dibandingkan ketika batin kita dalam keadaan tidak bajik atau netral.
Kita mungkin mengatakan, ketika saya bangun dipagi hari, saya melakukan praktik meditasi,’ tetapi kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita ketika kita melakukan hal tersebut? Ketika saya praktik kebajikan, apakah semua dari tiga unsur hadir yaitu tahap persiapan, tindakan itu sendiri dan penyelesaianya? Apakah semua unsur diatas yang diperlukan untuk membuat sebuah jalan karma yang kuat, hadir atau tidak? Ketika saya membaca do’a-do’a atau meditasi, mungkin saya sedang membaca teks saya tetapi dimanakah pikiran saya waktu itu?
Kalau kita jujur, kita akan harus mengakui bahwa sulit untuk menemukan perbuatan atau pikiran bajik yang lengkap dengan persiapan , tindakan dan penyelesaian. Dengan dasar inilah, kita menjadi mengerti tentang kesukaran dalam mendapatan suatu bentuk kelahiran yang lebih tinggi seperti kita dapatkan saat ini. Bila kita gagal mendapatkan kelahiran lagi seperti yang kita miliki sekarang ini dan sebaliknya jatuh pada suatu kelahiran yang lebih rendah, akan sangat sulit bagi kita untuk membangkitkan suatu kebajikan. Hal ini dikarenakan praktis seluruh waktu akan dilewatkan dibawah pengaruh salah satu dari tiga racun mental (yaitu: kemelekatan, kebodohan, dan kebencian). Sulit untuk membayangkan bagaimana seekor binatang, seperti seekor anjing mampu belajar sesuatu tentang Dhamma atau memiliki suatu jenis suatu kecerdasan yang mampu membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk. Karena hal ini para binatang tidak dapat membagkitkan nilai kebajikan (karma baik) yang baru. Ini berarti bahwa mereka melanglang buana dari satu kelahiran yang lebih rendah berikutnya. Inilah alasan mengapa sangat sulit untuk keluar dari alam yang lebih rendah sekali ketika telah terlahir disana.
Jika kita membandingkan kesukaran untuk merealisasikan pencerahan dengan basis bentuk kehidupan yang kita miliki saat ini, dan kesukaran untuk bangkit dan terlahir dialam yang lebih tinggi dari kelahiran dialam yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa jauh lebih sulit dibandingkan untuk merealisasikan pencerahan. Ketika kita dapat memahami akibat dari kelahiran dialam-alam rendah tersebut, hal ini cukuo untuk memberikan kita sebuah rasa takut.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Proses kelahiran kembali merupakan sebuah fenomena alam yang abadi, setiap orang yang belum dapat melenyapkan noda-noda batin dalam dirinya sudah pasti akan terus mengalami proses kelahiran kembali.
Kelahiran kembali bukan hanya terjadi pad amanusia tetapi kelahiran kembali terjadi pada binatang sekalipun karna terlahir menjadi binatang karna ada buah dari karma masa lampau. Ada tiga faktor yang menyebabkan proses kelahiran kembali selalu berputar yaitu kemelekatan, kebodohan dan kebencian. Apabila ketiga faktor ini masih ada pada diri tak akan ada satu orangpun yang dapat mengingkari proses kelahiran kembali.
Dengan melenyapkan tiga faktor ini manusia akan dapat menghentikan proses kelahiran kembali, manusia yang sudah tidak melekati keduniawian, manusia yang sudah tidak memupuk kebodohan dalam diri dan manusia yang sudah tidak membenci atau berbuat kebencian. Kelahiran sebagai seorang manusia sangatlah sulit dan membutuhkan karma yang mendukung sehingga kita sebagai manusia kita harus bersyukur dengan kelahiran kita sekarang ini. Dalam kehidupan sekarang ini kita harus berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya sehingga kita dapat terlahir di tingkatan yang lebih tinggi dari kelahiran sebagai manusia.
B. Saran
Semoga makalah yang penulis susun dapat bermanfaat dan menjadi tambahan pagi pengetahuan para pembaca. Penulis mengharapkan dukungan dari para pembaca agar penulis nantinya dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi sehingga dapat menjadi refrensi dan tambahan pengetahuan bagi para pembaca.

Daftar Pustaka

Y.M. Dagpo Lama Ripoche, 2000, Kemuliaan Kelahiran Sebagai Manusia. Bandung, Kadam Choe Ling.
Wowor Cornelis MA, 2004, Hukum Karma Buddhis, CV. Nitra Kencana Buana.
Sri Dhammananda, 2002, Keyakinan Umat Buddha, Yayasan Penerbit karaniya, Ehipassiko Foundation.
Wowor Cornelis MA, 1999, Buku Pelajaran Agama Buddha Sekolah Menengah Tingkat Atas Kelas III, Paramita Surabaya

GABI SAMPETAN

perjalanan ke senjoyo salatiga

ARANAVIBHANGA SUTTA

[230] Demikian telah saya dengar:

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam dekat Savatthi di Jetava­na di vihāra Anathapindika. Ketika sedang di sana Sang Buddha menyapa para bhikkhu dengan berkata: “Para bhikkhu.” “Ya, Bhante,” para bhikkhu ini menjawab Sang Buddha. Sang Buddha berbicara demikian: “Aku akan mengajarkan kalian, para bhikkhu, uraian tentang yang tidak ternoda. Dengarkanlah baik-baik, perhatikan dan aku akan berbicara.” “Ya, Bhante,” para bhikkhu ini menjawab Sang Buddha. Sang Buddha berkata demikian:

“Kalian tidak patut berminat terhadap kebahagiaan dari orang-orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan;  juga kalian tidak patut berminat terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan. Dengan tidak mendekati kedua jalan buntu ini, terdapatlah Jalan Tengah yang ditemu­kan oleh Sang Tathagata, membuatnya terlihat, membuatnya diketahui, dan menghasilkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbāna. Seorang harus mengetahui apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui, dan setelah mengetahui apa yang disetujui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak patut menyetujui maupun tidak menyetujui – seseorang harus hanya mengajarkan dhamma. Seseorang patut mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu; setelah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seseorang patut mempunyai niat terhadap kebahagiaan bathin. Seseorang tidak boleh mengutarakan ucapan-ucapan rahasia; dalam berhadapan muka (dengan seseorang) orang tidak boleh mengutarakan apa yang meng­ganggu pikirannya. Seseorang harus berbicara cukup perlahan, tidak tergesa-gesa. Seseorang janganlah mempengaruhi dialek daerah, seseor­ang janganlah menyimpang dari cara berbicara yang lazim. Ini adalah pengungkapan dari uraian tentang yang tidak ternoda.

‘Ketika dikatakan, ‘Kalian tidak patut berminat terhadap kebaha­giaan dari kesenangan-kesenangan indera … juga kalian jangan berminat terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan,’ sehubungan dengan apakah hal ini diucapkan? Kebahagiaan apapun yang dihubungkan dengan kesenangan-kesenangan indera dan niat terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang-orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan-tujuan  ini adalah hal-hal yang membawa penderitaan, gangguan, masa­lah dan kegelisahan; ini adalah jalur yang salah. Tetapi kebahagiaan apapun yang dihubungakan dengan kesenangan indera tetapi tidak berniat terhadap kesenangan [231] yang rendah, biasa … tidak berhubungan dengan tujuan  ini tidak membawa penderitaan, gangguan, masalah atau kegelisahan; inilah jalur yang benar. Niat apapun terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan  ini adalah hal-hal yang membawa penderitaan, gangguan, masalah dan kegelisahan; ini adalah jalan yang salah. Tetapi tiadanya niat apapun terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan  ini adalah hal-hal yang tidak membawa penderitaan, gangguan, masalah atau kegelisahan; inilah jalan yang benar. Ketika dikatakan, ‘Kalian tidak seharusnya mempunyai niat terhadap kebahagiaan dari kesenangan-kesenangan indera … Juga kalian tidak seharusnya berminat terhadap penyiksaan diri yang membawa penderitaan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan,’ ini dikata­kan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan, ‘Tidak mendekati kedua jalan buntu ini, terda­patlah Jalan Tengah yang ditemukan oleh Sang Tathagata, untuk dilihat, diketahui, yang mendatangkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbāna,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan? Ini adalah Jalan Mulia berunsur  delapan itu sendiri, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, pemusatan pikiran benar. Apabila dikatakan, ‘Jangan mendekati kedua jalan buntu ini, terdapatlah sebuah Jalan Tengah … yang mendatangkan … Nibbāna,’ ini dikatakan sehu­bungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan, ‘Seorang haruslah mengetahui apa yang disetu­jui dan apa yang tidak disetujui, dan setelah mengetahui apa yang disetu­jui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak sehar­usnya menyetujui maupun tidak menyetujui seseorang seharusnya hanya mengajarkan dhamma,’ sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

Dan apakah, para bhikkhu, yang disetujui dan apakah yang tidak disetujui tetapi tidak merupakan ajaran dhamma? Ia tidak menyetujui sebagian (orang) yang mengatakan: ‘Semua yang mencari kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan cenderung terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang kebanyakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana pada jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang mencari kebahagiaan dalam hubungannya dengan kesenangan namun tidak cen­derung pada keinginan yang rendah … tidak berhubungan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana pada jalan yang benar.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang cenderung pada pelaksanaan penyiksaan diri, yang menyedihkan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, [232] mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang tidak berniat terhadap pelaksanaan penyiksaan diri yang menyedihkan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia tidak menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang di dalam dirinya be­lenggu kelahiran kembali belum tersingkirkan mengalami penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia menyetujui sebagian (orang) yang menyatakan: ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali telah disingkirkan tidak mengalami penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Inilah, para bhikkhu, yang disetujui dan tidak disetujui namun tidak merupakan ajaran dhamma.

Dan apakah, para bhikkhu, yang disetujui dan tidak disetujui tetapi merupakan ajaran dhamma? Ia tidak berkata demikian: ‘Semua  yang mencari kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan berniat terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang keban­yakan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami pender­itaan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan berkata: ‘Keinginan adalah sesuatu yang membawa penderitaan, gangguan, masalah dan kecemasan; ini adalah jalan yang salah.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang mencari kebahagiaan dalam hubungannya dengan kesenan­gan indera namun tidak berniat terhadap kesenangan yang rendah … tidak dihubungkan dengan tujuan, tidak mengalami penderitaan, gang­guan masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan berkata: ‘Tanpa keinginan adalah sesuatu yang tidak membawa pada penderitaan, gangguan, masalah ataupun kecemasan; inilah jalan yang benar.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang mempunyai keinginan untuk menyiksa diri yang menyedih­kan, tidak luhur, tidak berhubungan dengan tujuan, mengalami penderi­taan, gangguan, masalah dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Keinginan adalah sesuatu yang membawa penderitaan … kecemasan; ini adalah jalan yang salah.’ Ia tidak  berkata demikian” ‘Semua yang tidak mempunyai keinginan terhadap pelaksanaan penyiksaan diri … tidak mengalami penderitaan … kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Tanpa keinginan adalah sesuatu yang bebas dari pederitaan … kecemasan; inilah jalan yang benar.’ Ia tidak berkata demikian: ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali belum tersingkirkan mengala­mi penderitaan, gangguan dan kecemasan; mereka berkelana di jalan yang salah.’ [233] Ia hanya mengajarkan dhamma dengan mengatakan: ‘Jika belenggu kelahiran kembali belum dipatahkan, kelahiran kembali belum tersingkirkan,’ Ia tidak berkata demikian” ‘Semua yang di dalam dirinya belenggu kelahiran kembali telah dipatahkan tidak mengalami penderitaan … kecemasan; mereka berkelana di jalan yang benar.’ Ia hanya mengajarkan dhamma dengan menyatakan: ‘Jika belenggu kelahir­an kembali disingkirkan, kelahiran kembali tersingkirkan.’ Inilah, para bhikkhu, yang bukan menyetujui dan bukan tidak menyetujui, tetapi merupakan ajaran dhamma. Ketika dikatakan” ‘Seseorang seharusnya mengetahui apa yang disetujui dan seseorang mengetahui apa yang tidak disetujui, setelah mengetahui apa yang disetujui, setelah mengetahui apa yang tidak disetujui, seseorang tidak seharusnya menyetujui maupun tidak menyetujui – seseorang seharusnya hanya mengajarkan dhamma,’ ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang seharusnya mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seseorang harus berniat terhadap keba­hagiaan bathin,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan?  lima hal, para bhikkhu, merupakan untaian dari kesenangan-kesenangan indera. Apakah kelimanya? Bentuk-bentuk materi yang dikenali oleh mata … suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa yang dikenali oleh lidah … sentuhan yang dikenali oleh tubuh, disetujui, menyenangkan, disukai, memikat, berhubungan dengan kesenangan indera, berdaya tarik. Ini, para bhikkhu, merupakan lima tali simpul kesenangan indera. Kebahagiaan atau kegembiraan apapun para bhikkhu, yang muncul sehubungan dengan kelima tali simpul kesenangan indera ini dikatakan sebagai kebahagian dari kesenangan indera, suatu kebahagiaan yang rendah, kebahagiaan dari orang-orang kebanyakan, kebanyakan yang tidak luhur. Aku katakan tentang kebahagiaan ini bahwa ini tidak patut dikejar, dikembangkan atau diperbanyak ini patut ditakuti. Sehubungan dengan ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu, yang menjauhi kesenangan-kesenangan indera, menjauh dari keadaan-keadan pikiran yang tidak terlatih, memasuki dan berdiam dalam jhana pertama … kedua … ketiga … keempat. Ini dikatakan merupakan keba­hagiaan dari ketenangan, kebahagiaan dari kesadaran diri. Aku katakan tentang kebahagiaan ini bahwa ini patut dikejar, dikembangkan dan diperbanyak ini tidak patut ditakuti. [234] Ketika dikatakan: ‘Seseorang haruslah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu; setelah mengetahui bagaimana menilai apakah kebahagiaan itu, seorang haruslah berminat terhadap di dalam (bathin).’ Ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang tidak patut mengutarakan ucapan rahasia; bila berhadapan muka (dengan orang) seseorang tidak patut menceritakan (padanya) hal-hal yang menimbulkan kecemasan/kejengke­lan,’ sehubungan dengan apakah ini dikatakan? Dalam hal ini, para bhikkhu, setelah mengetahui suatu ucapan rahasia tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, seseorang tidak seharusnya, apabila mungkin, mengutarakan ucapan rahasia terse­but; dan apabila, setelah megetahui ucapan rahasia tersebut sesuai dengan kenyataan, benar, namun tidak berhubungan dengan tujuan, ia harus melatih diri untuk tidak mengutarakannya. Tetapi apabila seseor­ang mengetahui bahwa ucapan rahasia tersebut sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, maka ia harus mengetahui saat yang tepat untuk megutarakan ucapan rahasia tersebut kepada (orang lain). Dalam hal, para bhikkhu, setelah mengetahui bahwa suatu ucapan yang menimblkan kejengkelan (yang diucapkan) berhadapan muka (dengan orang lain) tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, seseorang tidak seharusnya, apabila mu­ngkin, mengutarakan ucapan yang menimbulkan kejengkelan apabila berhadapan muka (dengan orang); dan jika setelah mengetahui bahwa suatu ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) di hada­pan muka (seseorang) adalah sesuai dengan kenyataan, benar, tetapi tidak berhubungan dengan tujuan, ia harus melatih diri untuk tidak mengucapkannya. Tetapi jika seseorang mengetahui bahwa ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) di hadapan muka (seseorang) adalah sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, maka ia akan mengetahui saat yang tepat untuk mengucapkan ucapan yang menjengkelkan di hadapan muka dengan (orang lain). Ketika dika­takan: ‘Seseorang tidak patut mengutarakan ucapan rahasia; berhadapan muka (dengan seseorang) ia tidak patut mengatakan (padanya) suatu ucapan yang menjengkelkan.’ Ini dikatakan sehubungan dengan hal ini.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang harus berbicara cukup lambat, tidak tergesa-gesa,’ sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Dalam hal ini, para bhikkhu, jika seseorang berbicara tergesa-gesa tubuhnya lelah dan pikiran menderita dan suara menderita dan tenggorokan juga terkena dampaknya; ucapan seseorang yang tergesa-gesa tidak jelas atau tidak dapat dimengerti. Dalam hal ini, para bhikkhu, jika seseorang berbicara perlahan tubuh tidak lelah dan pikiran tidak menderita dan suara tidak menderita dan tenggorokan tidak terkena dampaknya; ucapan dari se­seorang yang tidak tergesa gesa jelas dan dapat dimengerti. Ketika dika­takan: ‘Seseorang seharusnya berbicara cukup perlahan, tidak tergesa-gesa.’ sehubungan dengan hal ini tersebut dikatakan.

Ketika dikatakan: ‘Seseorang tidak patut mempengaruhi dialek desa, seseorang tidak patut menyimpang dari dialek yang dikenal, sehu­bungan dengan apakah hal ini dikatakan? Dan apakah para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan apakah yang menyimpang dari dialek yang dikenal? dalam hal ini, para bhikkhu, pada daerah-daerah yang berbeda mereka mengenal (kata-kata yang berbeda) : Pati [235] … Patta … Vitha … Sarava … Dharopa …Pona … Pisila. Demikianlah sebagaimana mereka megetahui kata itu sebagai ini dan itu dalam berba­gai daerah yang berbeda demikian pula seseorang, yang dengan keras kepala melekat padanya dan mempertahankannya, menjelaskan: ‘Inilah yang benar, yang lainnya salah.’ Demikianlah, para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan menyimpang dari dialek dikenal. Dan apakah, para bhikkhu, yang tidak mempengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal? Dalam hal ini, para bhikkhu, pada daerah-daerah yang berbeda mereka mengetahui (kata-kata yang berbeda): Pati … Patta … Pona … Pisila, namun meskipun mereka mengetahui kata itu sebagai ini dan itu dalam berbagai daerah yang berbeda seseorang tidak melekat padanya namun menjelaskan: ‘Bhante ini secara pasti menjelaskannya demikian.’ Demikianlah, para bhikkhu, yang tidak menpengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal. Ketika dikatakan: “Seseorang tidak patut mempengaruhi dialek desa, seseorang tidak patut menyimpang dari dialek yang dikenal,’ hal itu dikatakan sehubungan dengan ini.

Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera dan keinginan terhadap kesenangan yang rendah, biasa, dari orang kebanyakan, tidak berhubun­gan dengan tujuan, inilah yang membawa kesusahan, gangguan, masa­lah, dan kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan kebahagiaan yang berhubungan dengan kesenangan indera namun tidak timbul dari keingi­nan akan kesenangan yang rendah … ini tidak menimbulkan kesu­sahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang merupakan keinginan terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, dan tidak berhubungan dengan tuan, inilah hal yang membawa kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di mana­pun, para bhikkhu, apapun yang tidak timbul dari keinginan terhadap penyiksaan diri yang penuh dengan kesedihan, tidak luhur, tidak berhu­bungan dengan tujuan, ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. [236] Karenanya hal ini tidak kotor. Di mana­pun, para bhikkhu, Jalan Tengah itu dibangkitkan oleh Sang Tathagata, dibuat nampak, dijadikan pengetahuan, dan mendatangkan ketenangan, pengetahuan luar biasa, kesadaran diri dan Nibbana, inilah hal yang tidak membawa pada kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang menyetujui maupun tidak menyetujui dan bukannya ajaran Dhamma, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apapun yang bukan menyetujui maupun tidak menyetujui namun merupakan ajaran Dhamma, inilah yang tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu kebahagiaan dalam kesenangan indera, kebahagiaan yang kotor, kebahagiaan dari orang kebanyakan, kebahagiaan yang tidak luhur, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, kebahagiaan dari pelepasan, kebahagiaan dari pengasingan, kebahagiaan dari ketenangan, kebahagiaan dari kesadaran diri, hak ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang sesuai dengan kenyataan, benar, tetapi tidak berhubungan dengan tujuan, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan rahasia yang sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, inilah yang tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) berha­dapan muka (dengan seseorang) yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak benar, tidak berhubungan dengan tujuan, inilah yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang salah. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, ucapan yang menimbulkan kejengke­lan (yang dilakukan) berhadapan muka (dengan seseorang) yang sesuai dengan kenyataan, benar, namun tidak berhubungan dengan tujuan, inipun juga suatu hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan: inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, [237] ucapan yang menimbulkan kejengkelan (yang dilakukan) berhada­pan muka (dengan seseorang) yang sesuai dengan kenyataan, benar, dan berhubungan dengan tujuan, inilah hal yang tidak menimbulkan kesusa­han … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, apa yang diucapkan seseorang dengan tergesa-gesa, inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang keliru. Karenanya hal ini kotor. Di manapun, para bhikkhu, apa yang diucapkan oleh seseorang dengan tidak tergesa-gesa, hal ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor. Di manapun, para bhikkhu, yang mempengaruhi dialek desa dan menyimpangkan dari dialek yang dikenal. Inilah hal yang menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang salah. Karenanya hal ini kotor. Dimanapun, para bhikkhu, yang tidak mempengaruhi dialek desa dan tidak menyimpang dari dialek yang dikenal, hal ini tidak menimbulkan kesusahan … kecemasan; inilah jalan yang benar. Karenanya hal ini tidak kotor.

Di manapun, para bhikkhu, inilah cara bagaimana engkau harus melatih dirimu: ‘Aku akan mengetahui hal-hal yang kotor dan hal-hal yang tidak kotor, dan setelah mengetahui hal-hal yang kotor dan menge­tahui hal-hal yang tidak kotor, aku akan mengembara di jalan yang tidak kotor,’ Demikianlah, para bhikkhu, engkau melatih dirimu. Namun Subhuti, para bhikkhu, pemuda umat awam, telah berjalan di jalan yang tidak kotor.”

Demikianlah yang dikatakan Sang Buddha. Dengan puas, para bhikkhu bergembira dalam apa yang dikatakan oleh Sang Buddha.

segala sesuatu adalah suatu kekosongan…ada dan tidak ada adalah sama..

napsu indria adalah suatu penderitaan bagi semua makhluk…..

mengapa harus membuat kesalahan apabila kita sudah mengetahui akibatnya..

hendaknya kita berbuat baik untuk kehidupan yang lebih baik


CERPEN

Continue reading

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

sistem tata hukum indonesia (STHI)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Hukum mempunyai pengertian yang beraneka ragam, dari segi macam, aspek dan ruang lingkup yang luas sekali cakupannya. Kebanyakan para ahli hukum mengatakan tidak mungkin menbuat suatu definisi tentang apa sebenarnya hukum itu. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh van apel doorn yang mengatakan bahwa hukum itu banyak seginya dan sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin menyatkannya dalam satu rumusan yang memuaskan (http://sosial-budaya.blogspot.com, 2010).
Hukum memiliki ruang lingkup dan aspek yang luas. Hukum dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan, disiplin, kaidah, tata hukum, petugas (hukum), keputusan penguasa, proses pemerintahan, perilaku yang ajeg atau sikap tindak yang teratur dan juga sebagai suatu jalinan nilai-nilai. Hukum juga merupakan bagian dari norma, yaitu norma hukum(http://syehaceh.wordpress.com, 2010). Hukum atau ilmu hukum adalah suatu sistem aturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum.
Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie) (http://syehaceh.wordpress.com, 2010). Hukum di bagi menjadi dua yaitu, 1).Hukum Privat adalah hukum yg mengatur hubungan orang perorang. 2). Hukum Publik adalah hukum yg mengatur hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Hukum?
2. Apa pengertian Hukum Pidana?
3. Bagaimana wujud kasus Tindak Pidana?
4. Bagaimana proses persidangan berlangsung?
5. Bagaimana proses pengambilan vonis atau putusan hukum?

C. Tujuan Observasi
1. Memahami Hukum.
2. Memahami Hukum Pidana.
3. Mengetahui Proses Persidangan
4. Mengetahui Proses Pengambilan Vonis atau Putusan.
5. Mengenal Kasus Tindak Pidana.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum
Hukum mempunyai pengertian yang beraneka ragam, dari segi macam, aspek dan ruang lingkup yang luas sekali cakupannya. Kebanyakan para ahli hukum mengatakan tidak mungkin menbuat suatu definisi tentang apa sebenarnya hukum itu. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Van Apel Doorn yang mengatakan bahwa hukum itu banyak seginya dan sedemikian luasnya sehingga tidak mungkin menyatkannya dalam satu rumusan yang memuaskan (http://sosial-budaya.blogspot.com, 2010).
a. Pengertian Hukum Menurut para ahli:
1. Tullius Cicerco (Romawi) dala “ De Legibus” mengartikan hukum adalah akal tertinggi yang ditanamkan oleh alam dalam diri manusia untuk menetapkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
2. Hugo Grotius (Hugo de Grot) dalam “ De Jure Belli Pacis” (Hukum Perang dan Damai), 1625, megartikan hukum adalah aturan tentang tindakan moral yang mewajibkan apa yang benar.
3. J.C.T. Simorangkir, SH dan Woerjono Sastropranoto, SH mengartikan hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib.
4. Thomas Hobbes dalam “ Leviathan” (1651) mengartikan hukum adalah perintah-perintah dari orang yang memiliki kekuasaan untuk memerintah dan memaksakan perintahnya kepada orang lain.

5. Rudolf von Jhering dalam “ Der Zweck Im Recht” (1877-1882) mengartikan hukum adalah keseluruhan peraturan yang memaksa yang berlaku dalam suatu Negara.
Kesimpulan yang didapatkan dari apa yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu hukum pada asarnya adalah menghimpun dan mensistematisasi bahan-bahan dan memecahkan masalah-masalah bahan-bahan hukum dan memecahkan masalah-masalah (http://putracenter.wordpress.com, 2010).
b. Definisi hukum dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997):
1. Peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah, atau otoritas.
2. Undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur kehidupan masyarakat.
3. Patokan (kaidah atau ketentuan).
4. Keputusan atau pertimbangan yang ditenukan oleh hakim dalm pengadilan, vonis.
Hukum ditengah-tengah masyarakat tidak hanya menjadi persoalan hukum. Hukum juga berdimensi ekonomi, sosial, budaya, bahkan juga politik. Harus diakui, dengan ragam persoalan hukum yang terjadi di negri ini, wacana yang dimunculkan seharusnya bagaimana proses hukum baik peradilan, penerapan, maupun penegakan hokum lebih ditekankan menjadi pembelajaran hukum bagi warga Negara yang telah jelas menyatakan dirinya sebagai sebuah Negara hukum (http://callmeai.wordpress.com, 2010). Hukum yang diiterapkan di Indonesia yaitu:
a) Hukum Perdata adalah salah satu bidang hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada subyek hukum dan hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya.
b) Hukum Pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).
c) Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu antara lain dasar pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembaga-lembaga negara, hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara, wilayah dan warga negara.
d) Hukum tata usaha (administrasi) Negara adalah hukum yang mengatur kegiatan administrasi negara. Yaitu hukum yang mengatur tata pelaksanaan pemerintah dalam menjalankan tugasnya . hukum administarasi negara memiliki kemiripan dengan hukum tata negara.kesamaanya terletak dalam hal kebijakan pemerintah ,sedangkan dalam hal perbedaan hukum tata negara lebih mengacu kepada fungsi konstitusi/hukum dasar yang digunakan oleh suatu negara dalam hal pengaturan kebijakan pemerintah,untuk hukum administrasi negara dimana negara dalam “keadaan yang bergerak”. Hukum tata usaha negara juga sering disebut HTN dalam arti sempit.
e) Hukum Adat di Indonesia adalah seperangkat norma dan aturan adat yang berlaku di suatu wilayah.

B. Pengertian Hukum Pidana
Hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran- pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan tersebut diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan/siksaan. Hukum Pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP). Hukum Pidana nerfungsi untuk melindungi kepentingan hukum orang/masyarakat/negara dari perbuatan-perbuatan yang hendak menyerangnya, dengan cara mengancam dengan sanksi berupa pidana (=nestapa) bagi orang lain. Asas dalam hukum acara pidana ada lima macam yaitu:
1. Asas perintah tertulis, yaitu segala tindakan hukum hanya dapat dilakukan berdasarkan perintah tertulis dari pejabat yang berwenang sesuai dengan UU.
2. Asas peradilan cepat, sederhana, biaya ringan, jujur, dan tidak memihak, yaitu serangkaian proses peradilan pidana (dari penyidikan sampai dengan putusan hakim) dilakukan cepat, ringkas, jujur, dan adil (pasal 50 KUHAP).
3. Asas memperoleh bantuan hukum, yaitu setiap orang punya kesempatan, bahkan wajib memperoleh bantuan hukum guna pembelaan atas dirinya (pasal 54 KUHAP).
4. Asas terbuka, yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara terbuka untuk umum (pasal 64 KUHAP).
5. Asas pembuktian, yaitu tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian (pasal 66 KUHAP), kecuali diatur lain oleh UU (http://syehaceh.wordpress.com, 2010 ).
Pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

Sistematika KUHP

C. Istilah hukum
1. Advokat
Asdokat adalah seseorang yang memegang izin ber”acara” di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta mempunyai wilayah untuk “beracara” di seluruh wilayah Republik Indonesia sedangkan Pengacara Praktek adalah seseorang yang memegang izin praktek / beracara berdasarkan Surat Keputusan Pengadilan Tinggi setempat dimana wilayah beracaranya adalah “hanya” diwilayah Pengadilan Tinggi yang mengeluarkan izin praktek tersebut. Setelah UU No. 18 th 2003 berlaku maka yang berwenang untuk mengangkat seseorang menjadi Advokat adalah Organisasi Advokat.(Pengacara dan Pengacara Praktek/pokrol dst seteah UU No. 18 tahun 2003 dihapus).
2. Konsultan hukum
Konsultan hukum atau dalam bahasa Inggris counselor at law atau legal consultant adalah orang yang berprofesi memberikan pelayanan jasa hukum dalam bentuk konsultasi, dalam sistem hukum yang berlaku di negara masing-masing. Untuk di Indonesia, sejak UU nomor 18 tahun 2003 berlaku, semua istilah mengenai konsultan hukum, pengacara, penasihat hukum dan lainnya yang berada dalam ruang lingkup pemberian jasa hukum telah distandarisasi menjadi advokat.
3. Jaksa dan polisi
Kepolisian atau polisi berperan untuk menerima, menyelidiki, menyidik suatu tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya. Apabila ditemukan unsur-unsur tindak pidana, baik khusus maupun umum, atau tertentu, maka pelaku (tersangka) akan diminta keterangan, dan apabila perlu akan ditahan. Dalam masa penahanan, tersangka akan diminta keterangannya mengenai tindak pidana yang diduga terjadi. Selain tersangka, maka polisi juga memeriksa saksi-saksi dan alat bukti yang berhubungan erat dengan tindak pidana yang disangkakan. Keterangan tersebut terhimpun dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang apabila dinyatakan P21 atau lengkap, akan dikirimkan ke kejaksaan untuk dipersiapkan masa persidangannya di pengadilan. Kejaksaan akan menjalankan fungsi pengecekan BAP dan analisa bukti-bukti serta saksi untuk diajukan ke pengadilan. Apabila kejaksaan berpendapat bahwa bukti atau saksi kurang mendukung, maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut ke kepolisian, untuk dilengkapi. Setelah lengkap, maka kejaksaan akan melakukan proses penuntutan perkara. Pada tahap ini, pelaku (tersangka) telah berubah statusnya menjadi terdakwa, yang akan disidang dalam pengadilan. Apabila telah dijatuhkan putusan, maka status terdakwa berubah menjadi terpidana.
4. Delik
Delik adalah perbuatan pidana yaitu segala perbuatan yang melanggar hukum dan perbuatan tersebut diancam dengan hukuman. Perbuatan pidana sebagai pelanggaran hukum tersebut merupakan suatu bentuk peristiwa pidana yaitu suatu kejadian yang mengandung unsur perbuatan yang dilarang oleh uandang-undang, maka pelaku perbuatan yang menimbulkan peristiwa tersebut diancam dengan hukuman. Delik terdiri dari 6 macam yaitu :
1. Delik Formal adalah suatu perbuatan pidana yang sudah selesai dilakukan dan benar-benar melanggar ketentuan seperti yang dirumuskan dalam undang-undang.
2. Delik Material adalah suatu perbuatan pidana yang dilarang, yaitu akibat yang timbul dari pebuatan tersebut.
3. Delik Dous adalah suatu perbuatan pidana yang secara sengaja dilakukan oleh pelaku.
4. Delik Ulpha adalah perbuatan pidana yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan, yaitu karena kealpaan atau kelalaian pelaku.
5. Delik Aduan yaitu suatu perbuatan pidana yang diketahui karena adanya pengaduan dari pihak lain.
6. Delik Politik yaitu suatu tindak pidana yang ditujukan terhadap keamanan negara.
D. Pengertian Pencurian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencurian

1.Pengertian Pencurian
Dewasa ini tindak pidana pencurian menunjukkan kecenderungan meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya, hal ini tentunya meresahkan masyarakat dan menjadi salah satu penyakit masyarakat yang harus ditindak secara seksama. Mengenai tindak pidana pencurian diatur dalam BAB XXII Buku II Pasal 362 KUHP yang berbunyi (Moeljatno, 1994: 154):
“Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”.
Di dalam KUHP tidak memberikan pengertian dari pencurian, hal ini dapat diketahui dalam KUHP BAB IX buku I tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab Undang-Undang tersebut tidak dijelaskan.
Di dalam rumusan pasal 362 KUHP dapat diketahui bahwa tindak pidana pencurian itu merupakan tindak pidana yang diancam hukuman adalah suatu perbuatan yang dalam hal ini adalah “mengambil” barang orang lain. Tetapi tidak setiap mengambil barang orang lain adalah pencurian, sebab ada juga mengambil barang orang lain dan kemudian diserahkan kepada pemiliknya dan untuk membedakan bahwa yang dilarang itu bukanlah setiap mengambil barang melainkan ditambah dengan unsur maksud untuk dimiliki secara melawan hukum.Sedangkan unsur objektif dari tindak pencurian adalah perbuatan mengambil ,barang yang keseluruhan atau sebagian milik orang lain,secara melawan hukum,sedangkan unsur subyektifnya adalah untuk dimiliki secara melawan hukum.
Jadi di dalam KUHP tidak diterangkan mengenai pengertian tindak pidana pencurian secara jelas karena hanya disebutkan tentang unsur-unsur dari tindak pidana tersebut.
Arti tindak pidana menurut Wirjono Prodjodikoro di dalam buku karangannya menyebutkan unsur khas dari tindak pidana pencurian adalah mengambil barang milik orang lain untuk dimilikinya (Wirjono Prodjodikoro, 1981: 13). H.A.K. Moch. Anwar mengemukakan bahwa arti dari tindak pidana pencurian diterangkan mengenai unsur-unsur dari tindak pidana tersebut yang
dilarang. Mengenai perbuatan yang dilarang unsur pokoknya adalah mengambil barang milik orang lain (Moch. Anwar H.A.K., 1994: 16).
Dari kedua pendapat di atas yaitu mengenai tindak pidana pencurian bertitik tolak dari perbuatan mengambil barang milik orang lain, sehingga penulis dapat mengambil kesimpulan yang dimaksud pencurian adalah perbuatan mengambil barang milik orang lain untuk dimiliki secara melawan hukum.
2. Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencurian
Agar dapat mengetahui apa yang sebenarnya diatur dalam pasal 362 KUHP, maka perlu diketahui unsur-unsur dari perbuatan pencurian tersebut. Hal itu di maksudkan agar dapat menelaah unsur-unsur dari tindak pidana tersebut sehingga dapat memenuhi rumusan delik yang ada dalam pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Unsur-unsur dari kejahatan pencurian tersebut dibagi menjadi dua yaitu unsur subyektif dan unsur Obyektif (Sudarto, 1990: 43). Unsur-unsur tersebut antara lain:
a. Unsur subyektif :
1. Barang siapa.
2. Dengan maksud untuk memiliki.
b. Unsur Obyektif :
1. Mengambil barang sesuatu .
2. Seluruh atau sebagian milik orang lain.
3. Secara melawan hukum.

3. Jenis-jenis tindak pidana pencurian
Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diatur mengenai kejahatan dan pelanggaran, di dalamnya juga diatur tentang kejahatan dan pelanggaran mengenai kekayaan orang, sedangkan tindak pidana pencurian merupakan dalam kejahatan terhadap kekayaan orang. Pencurian diatur dalam BAB XXII Buku II dari Pasal 362 sampai dengan pasal 367 KUHP. Mengenai jenis-jenis tindak pidana pencurian dibagi menjadi 3 jenis yaitu:
A. Pencurian dalam bentuk pokok
Pencurian dalam bentuk pokok diatur dalam pasal 362 KUHP yang berbunyi (Moeljatno, 1994: 154):
“Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”.
Pencurian pokok adalah perbuatan yang mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a) Unsur-unsur Subyektif
1. Perbuatan mengambil
2. Suatu benda
3. Sifat dari benda itu haruslah:
a. Seluruhnya kepunyaan orang lain
b. Sebagian kepunyaan orang lain.
b) Unsur-unsur obyektif:
1. Dengan maksud
2. Untuk memiliki
3. Secara melawan hukum
B. Pencurian dalam bentuk ringan
Pencurian dalam bentuk ringan diatur dalam pasal 364 KUHP. Sedang yang dimaksud pencurian ringan adalah perbuatan pencurian yang memiliki unsur-unsur dari pencurian di dalam bentuk pokok, kemudian ditambah dengan unsur-unsur lain sehingga ancaman hukumannya diperingan. Adapun bunyi pasal 364 KUHP (Moeljatno: 155) adalah sebagai berikut:
“Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 KUHP, dan pasal 363 ayat 1 no 4, begitu juga perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 ayat 1 no 5, asal saja tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau dalam pekarangan tertutup yang ada rumahnya dan jika barang yang dicuri itu tidak lebih dari dua puluh lima rupiah, dihukum karena pencurian ringan, dengan hukuman penjara selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya 15 kali enam puluh rupiah”.
Setelah mengetahui pasal di atas maka dapat diketahui unsur-unsur dari kejahatan tersebut yaitu:
a. Pencurian dalam bentuknya yang pokok
b. Pencurian yang dilakukan dua orang atau lebih secara bersama sama
c. Pencurian dengan pembongkaran, pengrusakan, pemanjatan, kunci paslu, perintah palsu, atau pakaian jabatan palsu.
Perbuatan-perbuatan di atas merupakan kategori pencurian ringan asalkan:
a. Tidak dilakukan di sebuah tempat kediaman
b. Tidak dilakukan di pekarangan tertutup yang didalamnya terdapat rumah kediaman.
c. Harga barang yang dicuri tidak melebihi nilai dua puluh lima rupiah.
d. Termasuk jenis pencurian di dalam keluarga.

C. Pencurian dengan pemberatan
Pencurian dengan pemberatan diatur dalam pasal 363 KUHP dan pasal 365 KUHP. Yang dimaksud dengan pencurian dengan pemberatan adalah perbuatan pencurian yang mempunyai unsur-unsur dari perbuatan pencurian di dalam bentuk pokok, yang kemudian ditambah dengan unsur-unsur lain sehingga hukumannya menjadi berat. Pencurian dengan pemberatan yang pertama adalah yang diatur dalam pasal 363 KUHP. Adapun bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:
Ke 1 : Pencurian ternak
Ke 2 : Pencurian pada waktu kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru hara, pemberontakan atau perang.
Ke 3 : Pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau di pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tidak dikehendaki atau dikehendaki oleh orang yang berhak.
Ke 4 : Pencurian yang dilakukan dua orang atau lebih secara bersekutu.
Ke 5 : Pencurian yang dilakukan untuk dapat masuk ke tempat kejahatan atau untuk dapat mengambil barang yang akan dicuri, dengan jalan membongkar, merusak atau memanjat atau memakai akan kunci palsu atau pakaian jabatan palsu.
2. Jika pencurian yang diterangkan dalam ke-3 disertai dengan salah satu hal tersebut ke-4 dan ke-5, maka dikenakan pidana paling lama sembilan tahun. Tindak pidana pencurian dengan pemberatan ini diancam lebih berat yaitu dengan ancaman pidana penjara maksimum tujuh tahun. Selain ancaman hukuman yang lebih berat tindak pidana pencurian yang dilakukan dengan cara khusus ini mempunyai beberapa jenis atau kategori keadaan tertentu yaitu sebagai berikut:

4. Bentuk-Bentuk Pencurian
1. Pencurian ternak
Dalam pasal 101 KUHP ditentukan bahwa yang dimaksud dengan ternak adalah:
a. Semua binatang yang berkuku satu
Misalnya: Kuda
b. Binatang memamah biak dan babi
2. Pencurian pada waktu peristiwa tertentu
Berlakunya pasal ini atau ketentuan tentang keadaan yang telah ditentukan pada pasal 363 ayat ke-2 KUHP ini, tidak perlu barang-barang yang kena bencana atau yang diselamatkan dari bencana. Melainkan juga meliputi barang-barang yang ada di sekitarnya, oleh karena barang-barang tersebut tidak dijaga pemiliknya. Adapun alasan untuk memperberat hukuman atas tindak pidana pencurian ini ialah bahwa peristiwa-peristiwa semacam ini menimbulkan keributan dan rasa khawatir di khalayak ramai yang memudahkan seseorang untuk melakukan pencurian, sebaliknya orang tersebut sebenarnya harus memberikan pertolongan.

3. Pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup.
Perpaduan antara waktu malam dengan rumah kediaman atau pekarangan tertutup serta, adanya unsur tanpa sepengetahuan pemilik, ini memberikan sifat yang lebih jahat dari tindak pidana pencurian. Arti pekarangan tertutup di sini tidak perlu adanya pagar yang seluruhnya mengelilingi pekarangan, melainkan cukup apabila pekarangan yang bersangkutan nampak terpisah dari sekelilingnya. Sedangkan pengertian tanpa persetujuan yang berhak adalah harus ada kehendak yang terang menentang adanya orang di situ.
4. Pencurian oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama.
Ketentuan dari pasal ini adalah merupakan ketentuan dari adanya penyertaan dalam tindak pidana pencurian. Di mana hal ini menunjukkan adanya dua orang pelaku atau lebih yang bekerja sama dalam melakukan tindak pidana pencurian, misalnya : mereka bersama-sama mengambil barang-barang dengan kehendak bersama. Dalam hal ini tidak perlu adanya rancangan bersama atau perundingan yang mendahului dilakukannya pencurian tersebut, tetapi cukup apabila mereka bersama-sama, dalam waktu yang sama mengambil barang-barang.
5. Pencurian dengan jalan membongkar atau merusak.
Dalam ketentuan tentang pencurian yang dilakukan dengan cara membongkar atau merusak, ternyata KUHP juga telah memberikan ketentuan secara terperinci yaitu seperti yang disebutkan dalam pasal 99 dan pasal 100 KUHP yang berbunyi (Moeijatno : 47) :
Pasal 99 KUHP :
Yang disebut memanjat termasuk juga masuk melalui lobang yang memanjang sudah ada tetapi bukan untuk masuk, atau masuk melalui lobang di dalam tanah yang dengan sengaja digali, begitu juga menyeberangi selokan atau parit yang digunakan sebagai batas penutup.
Pasal 100 KUHP :
Yang disebut anak kunci palsu termasuk juga segala perkakas yang tidak dimaksud untuk membuka kunci.
Berdasarkan ketentuan kedua pasal tersebut di atas, maka apabila orang sedang melakukan pembongkaran atau pengrusakan atau pemanjatan kemudian dia tertangkap basah, maka orang tersebut sudah dapat dianggap melakukan percobaan pencurian, oleh karena perbuatannya sudah dapat dianggap sebagai tahap permulaan pelaksanaan perbuatan. Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana ada bermacam-macam pencurian dalam bentuk khusus, antara lain adalah pencurian dengan kekerasan. Adapun pencurian dengan kekerasan ini diatur dalam pasal 365 KUHP yang mempunyai empat ayat dimana akan penyusun pokokkan pada ayat 1 dari pasal 365 KUHP.
Adapun bunyi dari pasal 365 KUHP adalah sebagai berikut (Moeljatno : 155) :
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun, pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencarian atau dalam hal tertangkap tangan untuk meniungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya atau untuk tetap menguasai barang-barang yang.dicurinya.
(2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun:
Ke-1 : Jika perbuatan itu dilakukan pada waktu dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dijalan umum atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan.
Ke-2 : Jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu.
Ke-3 : Jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat atau memakai anak kunci palsu, atau pakaian jabatan palsu.
Ke-4 : Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat.
(3) Jika perbuatan mengakibatkan mati maka dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika perbuatan mengakibatkan luka berat atau mati dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, pula disertai oleh salah satu hal yang diterangkan dalam no. 1 dan 3.

BAB III
HASIL OBSERVASI

A. Data Kasus Pidana
Hasil observasi yang penulis laksanakan di pengadilan negeri Ungaran adalah kasus tentang pencurian. Data yang penulis peroleh dari observasi tersebut adalah sebagai berikut :
Hari/Tanggal : kamis 18 maret 2010
Nama Terdakwa : Bambang Sunaryo
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
No. Perkara : PDM-18/0.3.42/EP 1/02/2010
Tempat tinggal :Ds.Pomosan RT 01 RW 02, Kmpul Reo Agomulyo kota Saatiga
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SD
B. Kronologi Peristiwa
Peristiwa pencurian terjadi pada 19 desember 2009. menurut beberapa saksi kejadian berlangsung sekutar pukul 03.20 WIB bertempat di desa kadipuro RT 01 RW 06 kelurahan bener kecamatan tengaran. keterangan dari saksi korban, bambang sunaryo selaku terdakwa berhasil mencuri sebuah gas LPG 3kg, dan seekor ayam jago.
Barang bukti:
1. gas LPG 3kg
2. ayam jago
3. karug lastik (bagor)
4. sepeda ontel
terdakwa diancam pasal 363 ayat 1 k-3 KUHP tentang pencurian
saksi saksi
 Suparman bin Suwarto
Atas keterangan saksi terdakwa tidak keberatan atau menerima
 Sujiyatno yusman
Atas keterangan saksi terdakwa tidak keberatan atau menerima
 Mujiani Bin Maskan
Atas keterangan saksi terdakwa tidak keberatan atau menerima
C. Surat Dakwaan
Surat dakwaan
No-Rek perkara:PDM-18/0.3.42/EP 1/02/2010
1. identitas terdakwa
Nama Terdakwa : Bambang Sunaryo
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
No. Perkara : PDM-18/0.3.42/EP 1/02/2010
Tempat tinggal :Ds.Pomosan RT 01 RW 02, Kmpul Reo Agomulyo kota Saatiga
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SD
2. penahanan
• penyidik polri:rutan tanggal 23-12-2009 – 11-01-2010
• perpanjangan oleh penuntut umum tanggal 12-01-2010 – 20-02-2010
• penuntut umum- Rutan tanggal 05-02-2010 sampai dengan dilimpahkan kepengadilan negeri semarang

B. Proses Persidangan
Pada hari Rabu tanggal 24 Maret pukul 11.00 WIB dilaksanakan Sidang Putusan di Pengadilan Negeri Ungaran atas Kasus Tindak Pidana perjudian dengan data sebagai berikut :
No. Perkara : PDM-18/0.3.42/EP 1/02/2010
Nama Terdakwa : Bambang Sunaryo
Jenis Kelamin :Laki-laki
Kebangsaan :Indonesia

Susunan Persidangan kasus tersebut adalah sebagai berikut:
Nama Hakim I : Zainuri .SH.

Nama Hakim II : Emaniel ari B. SH.

Nama Hakim III : Aris gunawan .SH.

Panitera Pengganti :Budi setiawan. SH.

Jaksa Penuntut Umum : Judith sukmaningtyas, SH
Sidang perkara tersebut berjalan dengan kronologi sebagai berikut :
1. Majelis Hakim memasuki ruang sidang dan menempati tempat duduk
2. Panitera memasuki ruang sidang dan mempersiapkan berkas persidangan
3. Jaksa Penuntut Umum memasuki ruang sidang dan menempati tempat duduk
4. Terdakwa memasuki ruang sidang dan menempati tempat duduk
5. Hakim ketua membuka sidang perkara
6. Hakim mengajukan pertanyaan kepada terdakwa tentang keadaan dan kesiapan untuk mengikuti sidang
7. Jaksa membacakan tuntutan dan kemudian menyerahkan berkas perkara kepada hakim ketua.
8. Hakim ketua mengajukan pertanyaan kepada terdakwa berkenaan dengan tuntutan jaksa
9. Hakim membacakan pasal yang telah dilanggar oleh terdakwa dan tuntutan hukuman yang akan diberikan
10. Hakim menyampaikan bahwa terdakwa mempunyai hak untuk mengajukan keringanan hukuman
11. Terdakwa mengajukan keringanan dan Hakim menyatakan akan merundingkanya.
12. Hakim menyampaikan bahwa sidang ditunda sampai hari kamis 25 maret 2010 untuk menindak lanjuti sidang berikutnya.
13. Hakim menutup sidang perkara
14. Hakim meninggalkan ruang sidang di ikuti oleh panitera, jaksa dan terdakwa.
15. Proses sidang perkara selesai.

C. Pelanggaran Pasal dalam KUHP dan Tuntutan Sidang
Pengadilan Negeri Ungaran meriksa dan yang mengadili perkara-perkara pidana pada peradilan pertama, dengan acara pemeriksaan biasa telah menjatuhkan tuntutan sebagai berikut terdakwa:

Nama : Bambang Sunaryo
Tempat/Tgl. Lahir : semarang 25 desember 1962
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Kebangsaan : Indonesia
Alamat :Ds. romosan. RT 01 RW 02 Kel Kumpul Rejo Kec.
Argomulyo Kota Salatiga
Agama :Islam
Pekerjaan : Buruh

Analisa yuridis
Berdasrkan fakta yang terungkap dalam persidangan maka sampailah kami pada pembuktian unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa yaitu sebagai mana dalam dakwaan tunggal pasal 363 ayat 1 ke-3 KUHP dengan unsur sebagai berikut:
Hal yang memberatkan
1. perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat
2. perbuatan terdakwa merugikan saksi korban
3. terdakwa sudah pernah dihukum
hal yang meringankan
1. bersikap sopan dalam sidang
2. terdakwa mengakui dan menyesali perbuatanya serta tidak akan mengulanginya lagi
Surat tuntutan
Surat tuntutan

No-Rek perkara:PDM-18/0.3.42/EP 1/02/2010
Nama : Bambang Sunaryo
Tempat/Tgl. Lahir : semarang 25 desember 1962
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Kebangsaan : Indonesia
Alamat :Ds. romosan. RT 01 RW 02 Kel Kumpul Rejo Kec.
Argomulyo Kota Salatiga
Agama :Islam
Pekerjaan : Buruh
Berdasarkan surat penetapan majelis hakim pada pengadilan negeri semarang No 53/Pen.Did/2009/PN.Ung tgl 19 feb 2010 (acara pemeriksaan biasa) sesuai dengan pelimpahan perkara pada tanggal 17 februari 2010, No B-27/0.3.42/EP 1/02/2010

Menuntut
supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Kota Semarang di Ungaran yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan ……
1. menyatakan terdakwa bambang sunaryo bin muhlan, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Melakukan tindak pidana ”pencurian dalam keadaan memberatkan” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 363bayat 1 ke-3 KUHP sebagaimana dakwaan kami
2. menjatuhkan pidana terhadap bambang sunaryo bin muhlan dengan pidana penjara selama 10 bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dan memerintah terdakw tetap ditahan.
3. menyatakan barang bukti LPG, AYAM JAGO, dikembalikan pada pemiliknya yaitu saksi korban suparman bin suwarto (sedangkan 1 buah karung plastik atau bagor dan 1 buah sepeda ontel dirampas untuk dimusnahkan).
4. menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 2000;00

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie) (http://syehaceh.wordpress.com, 2010).
Hukum ditengah-tengah masyarakat tidak hanya menjadi persoalan hukum. Hukum juga berdimensi ekonomi, sosial, budaya, bahkan juga politik. Harus diakui, dengan ragam persoalan hukum yang terjadi di negri ini, wacana yang dimunculkan seharusnya bagaimana proses hukum baik peradilan, penerapan, maupun penegakan hukum lebih ditekankan menjadi pembelajaran hukum bagi warga Negara yang telah jelas menyatakan dirinya sebagai sebuah Negara hukum.
Hukum pidana adalah hukum yang mengatur tentang pelanggaran- pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan tersebut diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan/siksaan. Hukum Pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materi.

B. Saran

Hukum memiliki pengertian yang beragam karena memiliki ruang lingkup dan aspek yang luas. Hukum dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan, disiplin, kaedah, tata hukum, petugas (hukum), keputusan penguasa, proses pemerintahan, perilaku yang ajeg atau sikap tindak yang teratur dan juga sebagai suatu jalinan nilai-nilai. Hukum juga merupakan bagian dari norma, yaitu norma hukum.
Ada hubungan yang sangat dekat antara hukum dan norma. Dalam kehidupan sehari-hari, hukum Indonesia juga dianggap sebagai sistem norma yang berlaku di Indonesia yang mengatur kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

DAFTAR REFERENSI

http://sosial-budaya.blogspot.com, 2010.
http://syehaceh.wordpress.com, 2010.
http://putracenter.wordpress.com, 2010.
http://callmeai.wordpress.com, 2010.
Moeljatno, F. 1992. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jakarta: Bumi Aksara

EVALUASI PENDIDIKAN

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BE, dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber “tradisi” yaitu 624 BE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun “sejarah” 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun “sejarah” dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis BE sebanyak 544 tahun Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.
Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. 100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).
Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.
Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha
Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin yang sekarang dikenal sebagai Theravada. Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka
Agama Buddha mempunyai banyak aliran besar diantaranya adalah aliran Theravada, aliran ini berkembang di Indonesia dan juga berkembang di Negara-negara buddhis diantaranya, tapi diantara aliran-aliran besar ini, Theravada mempunyai paham sendiri seperti aliran-aliran yang lain. Dalam aliran theravada hanya Buddha Sakyamuni dalam sejarah dan para Buddha masa lampau juga diterima. Sedangkan apabila kita bandingkan dengan aliran Mahayana cukup berbeda, dalam aliran Mahayana terdapat Buddha lain selain Buddha Sakyamuni, pada saat ini Buddha Amitabha dan Buddha Baisyajaraja (Obat) sangat terkenal. Sehingga hal seperti ini yang mudah terlihat bahwa aliran-aliran dalam agama Buddha mempunyai paham yang berbeda-beda, selain itu juga masih ada hal-hal yang membedakan, dalam aliran Theravada mempercayai bahwa boddhisatva yang di percaya atau diterima adalah hanya menerima Bodhisattva Maitreya sedangkan dalam aliran Mahayana mempercayai Bodhisattva Avalokitesvara, Mansjuri, Ksitigarbha dan Samanthabadra disamping Bodhisattva Maitreya.masing-masing aliran mempunyai tujuan pencapaian, atau arah yang akan dicapai, dalam aliran Theravada, karna di dalam aliran Theravada tujuan yang akan di capai adalah arahat dan kemudian menjadi paceka Buddha, kitab suci yang di gunakan sama dengan aliran-aliran lain yaitu tripitaka yang terbagi menjadi 3 yaitu, Vinaya Pitaka 5 buku, Sutta Pitaka 5 koleksi ( banyak sutta) dan Abhidhamma Pitaka 7 buku.aliran Penekanan utama dalam aliran Theravada adalah pembebasan diri. Kepercayaan penuh pada diri sendiri untuk membasmi semua kekotoran batin. Inilah sejarah timbulnya aliran Theravada dan juga perbedaan Theravada dengan aliran-aliran lain.

SEJARAH AGAMA BUDDHA THERAVADA

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BE, dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber “tradisi” yaitu 624 BE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun “sejarah” 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun “sejarah” dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis BE sebanyak 544 tahun Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.
Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. 100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).
Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.
Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha
Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin yang sekarang dikenal sebagai Theravada. Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka
Agama Buddha mempunyai banyak aliran besar diantaranya adalah aliran Theravada, aliran ini berkembang di Indonesia dan juga berkembang di Negara-negara buddhis diantaranya, tapi diantara aliran-aliran besar ini, Theravada mempunyai paham sendiri seperti aliran-aliran yang lain. Dalam aliran theravada hanya Buddha Sakyamuni dalam sejarah dan para Buddha masa lampau juga diterima. Sedangkan apabila kita bandingkan dengan aliran Mahayana cukup berbeda, dalam aliran Mahayana terdapat Buddha lain selain Buddha Sakyamuni, pada saat ini Buddha Amitabha dan Buddha Baisyajaraja (Obat) sangat terkenal. Sehingga hal seperti ini yang mudah terlihat bahwa aliran-aliran dalam agama Buddha mempunyai paham yang berbeda-beda, selain itu juga masih ada hal-hal yang membedakan, dalam aliran Theravada mempercayai bahwa boddhisatva yang di percaya atau diterima adalah hanya menerima Bodhisattva Maitreya sedangkan dalam aliran Mahayana mempercayai Bodhisattva Avalokitesvara, Mansjuri, Ksitigarbha dan Samanthabadra disamping Bodhisattva Maitreya.masing-masing aliran mempunyai tujuan pencapaian, atau arah yang akan dicapai, dalam aliran Theravada, karna di dalam aliran Theravada tujuan yang akan di capai adalah arahat dan kemudian menjadi paceka Buddha, kitab suci yang di gunakan sama dengan aliran-aliran lain yaitu tripitaka yang terbagi menjadi 3 yaitu, Vinaya Pitaka 5 buku, Sutta Pitaka 5 koleksi ( banyak sutta) dan Abhidhamma Pitaka 7 buku.aliran Penekanan utama dalam aliran Theravada adalah pembebasan diri. Kepercayaan penuh pada diri sendiri untuk membasmi semua kekotoran batin. Inilah sejarah timbulnya aliran Theravada dan juga perbedaan Theravada dengan aliran-aliran lain.

  • Calendar

    • December 2016
      M T W T F S S
      « May    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Search