PROSES KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA

PROSES KELAHIRAN SEBAGAI MANUSIA
oleh: Warsito

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelahiran kembali merupakan proses kehidupan yang tidak dapat dielakkan lagi karma proses kelahiran adalah suatu hokum alam. Dalam agama Buddha kelahiran kembali dinyatakan sebagai renkarnasi, renkarnasi disini bukan jiwa kita yang hidup sekarang ini yang kelak akan terlahir kembali akan tetapi jiwa kita atau buah karma kita yang akan mengalami kelahiran kembali sehingga ada seseorang yang mampu mengingat kelahiran kembali karma ada seseorang yang mampu menyatakan bahwa dia pernah hidup disuatu tempat dan dia benar-benar hidup karma orang ini dapat membuktikannya.
Berdasarkan pada urraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari proses kelahiran kembali, karma proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang (dalam kandungan saat terjadi pembuahan) kehidupan baru sebagai berikut:
1. Patisandhi Vinnana
2. Bhavanga Citta
3. manodvaravajjana
4. Javana
5. Bhavangga citta
Menurut pandangan agana Buddha, bumi kita ini hanya merupakan titik kecil saja dialam semesta, dengan demikian bumi ini bukan satu-satunya tempat makhluk hidup yang berenkarnasi atau mengalami proses kelahiran.
A. Rumusan Masalah
a. Mendiskripsikan proses kelahiran?
b. Apa penyebab tumimbal lahir itu?
c. Sebab-sebab kelairan unggul sebagai manusia?

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini untuk menumbuhkan keyakinan dan menambah pengetahuan bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Sehingga penulis dan pembaca dapat mengetahui proses kelahiran yang sesungguhnya dan betapa susah terlahir sebagai manusia. Maka dari makalah ini penulis berusaha untuk mengumpulkan resensi dari buku-buku dan internet sehingga makalah ini dapat berguna bagi para pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses kelahiran
manusia memnganggap bahwa seorang yang telah mengalami kematian akan musnah badan jasmaninya dan akan masuk surga atau neraka jiwanya akan tetapi dalm pandangan agama buddha manusia yang meninggal akan mengalami kelahiran kembali baik sebagai manusia, binatang bahkan akan ada yang terlahir dialam yang tidak menyenagkan. Dalam agama buddha kelahiran kembali dipengaruhi oleh karma yang diperbuat apabila dalm kehidupannya berbuat kebaikan maka dalam kehidupan yang berikutnya akan kembali terlahir sebagai manusia bahkan akan dapat terlahir dialam yang lebih menyenagkan sebagai misal terlahir dialam dewa.
Umat buddha menganggap doktrin tumimbal lahir tidak hanya semata-mata teori , tetapi sebagai kenyataan yang dapat dibuktikan. Kepercayaan akan kebenaran tumimbal lahir akan membentuk suatu prinsip fundamental Buddhisme. Namun demikian, kepercayaan tumimbal lahir tidak terbatas pada umat Buddha saja; hal ini juga ditemukan dinegara lain, di negara lain, diagama lain, dan bahkan diantara pemikir bebas. Pythagoras dapat mengingat kelahirannya sebelunya. Plato dapat meningat sejumlah kehidupan sebelunya. Menurut Plato, manusia dapat dilahirkan kembali hanya dalam 10 kali. Plato juga percaya pada kemungkinan tumimbal lahir dalam dunia binatang. Diantara masyarakat kuno di Mesir dan Cina, ada suatu kepercayaan umum bahwa hanya pribadi yang terkenal yang dapat bertumimbal lahir. Ini sangat berbeda dengan pandangan agama Buddha bahwa manusia dapat bertumimbal lahir karna karma yang ia perbuat dan bukan karna terkenal atau tidak terkenal orang tersebut.
Pejabat kristen terkenal bernama Origen, yang hidup pada 185-254 M, percaya akan tumimbal lahir. Menurutnya, tidak ada penderitaan abadi di neraka tapi disini juga ada sedikit perbedaan dengan agama Buddha, baahwasannya di agama buddha mengenal neraka yang biasa dengan disebut neraka avicci yaitu neraka bagi orang-orang yang mempunyai kesalahan terbesar misalnya memecah belah anggota sangha, membunuh orang tua, dan sebagainya dan manusia yang terlahir dialam ini kesalahannya tidak dapat diampuni dan tidak dapat dilahirkan kembali bahkan seorang dewa yang akan menyelamatkannya. Gorana Bruno, yang hidup pada abad ke enam belas, percaya bahwa setiap orang dan binatang berpindah dari makhluk ke makhluk lainnya.
Ada hal yang mungkin tapi tidak mudah bagi kita untuk benar-benar membuktikan kehidupan silam kita. Sifat pikiran yang sedemikian rupa, tidak memungkinkan kebanyakan orang untuk mengingat kehidupannya sebelumnya. Pikiran kita dikuasai oleh lima rintangan: keinginan indrawi, niat buruk kemalasan, kegelisahan, dan keragu-raguan. Karena rintagan-rintangan ini, pandangan kita jadi terbatas dan karenanya kita tidak dapat menggambarkan tumimbal lahir. Sama dengan cermin tidak memancarkan suatu citra apabila cermin tersebut tertutup dengan debu, demikian juga pikiran tidak memungkinkan kebanyakan orang untuk mengingat kehidupan sebelumnya. Kita tidak dapat melihat bintang-bintang di siang hari, bukan karena bintang itu tidak ada dilangit, tapi karena bintang itu terterangi oleh sinar matahari. Sama halnya, kita tidak dapat mengingat kehidupan kita sebelumnya karena pikiran kita saat ini selalu dibebani dengan banyak pikiran dalam peristiwa dari hari-kehari dan suasana pada umumnya.
Pertimbangan akan singkatnya masa hidup kita dibumi akan membantu kita untuk merefleksikan tumimbal lahir. Jika kita mempertimbangkan hidup, makna dan tujuan tertingginya, dan semua ragam pengalaman yang mungkin bagi manusia, kita harus mentimpulkan bahwa dalam satu kehidupan tunggal tidaklah cukup waktu bagi seorang untuk mencapai semua yang ia dapat lakukan atau inginkan.
Doktrin umat buddha tentang tumimbal lahir harus dibedakan dari ajaran tentang perpindahan dan reinkarnasi agama lain. Buddhisme tidak seperti Hinduisme, menolak keberadaan suatu jiwa diciptakan Tuhan yang permanen atau suatu entitas tak berubah yang pindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain.
Seperti halnya identitas relatif dimungkinkan oleh kesinambungan kausal tanpa suatu diri atau jiwa, demikian juga kematian dapat terjadi dalam tumimbal lahir tanpa suatu perpindahan jiwa. Dalam suatu kehidupan tunggal, setiap saat pikiran masuk dan keluar dari suatu makhluk, membangkitkan penerusnya dengan kebinasaanya. Secara tegas, momentum yang timbul dan lenyap di pikiran ini adalah kelahiran dan kematian. Jadi bahkan dalam satu kehidupan tunggal kita mengalami kelahiran dan kematian dalam jumlah tak terhingga setiap detik. Tetapi karena proses mental berlanjut dengan dukungan satu tubuh fisik yang tunggal, kita menganggap kesinambungan pikiran-tubuh sebagai satu kehidupan tunggal.
Berdasarkan pada urraian tentang proses berpikir dan proses kematian maka tidak sulit untuk mengikuti atau mempelajari proses kelahiran kembali, karma proses kelahiran kembali hanya merupakan kelanjutan dari proses kematian. Proses kelahiran kembali hanya berlangsung lima tahap dalam batin seseorang (dalam kandungan saat terjadi pembuahan) kehidupan baru sebagai berikut:
1. Patisandhi Vinnana
Patisandhi vinnana adalah kesadaran kelahiran kembali. Dalam uraian tentang proses kematian, patisandhi vinnana disebutkan pada urutan proses bagian terakhir. Penyebutan ini bukan berarti bahwa patisandhi vinnana terjadi pada pikiran orang yang akan meninggal dunia itu. Tetapi penyebutan patisandhi vinnana dalam uraian proses kematian adalah untuk menunjukkan proses sebab-akibat yang berkesinambungan dalam proses kematian dan kelak yang akan terlahir kembali.
Patisandhi vinnana hanya merupakan akibat dari maranasanna javana citta. Patisandhi vinnana hanya muncul atau ada pada batin atau pikiran rari makhluk yang baru terlahir kembali. Jika makhluk terlahir kembali sebagai manusia maka patisandhi vinnana muncul pada ovum yang baru diabuahi oleh sperma dalam kandungan atau tabung (untuk bayi tabung). Berkenaan dengan adanya patisandhi vinnana terjadi pula kelompok sepuluh dari jasmani (kaya dasaka), kelompok sepuluh dari kelami (bhava dasaka) dan kelompok sepuluh dari kedudukan kesadaran (vatthu dasaka).
Kaya dasaka terdiri dari 1. Elemen, 2. elemen cair, 3. elemen panas, 4. elemen gas, 5. warna, 6. bau, 7. rasa, 8. sari makanan, 9. inderiya kehidupan, 10. tubuh (yaitu bagian tubuh yang peka-pasada).
Bhava dasaka terdiri dari 1-9 seperti dalam kaya dasaka dan 10. kelamin. Sedangkan vatthu dasaka terdiri dari 1-9 seperti pada kaya dasaka dan 10. kedudukan kesadaran.
Menurut pandangan Buddhist, kelamin ditentukan pada saat pembuahan dan dihasilkan oleh karma. Walaupun kelamin telah ditentukan akan tetapi kelamin belum berkembang pada saat pembuahan, tetapi kelamin adalah latent.
Jadi dengan ada patisandhi vinnana maka kombinasi jasmani-batin baru mulai bekembang dalam kandungan atau tabung. Sperma-ovum orang tua menyiapkan materi sedangkan patisandhi vinnana menyiapkan batin. Patisandhi vinnana yang berhubungan kehidupan yang baru dan kehidupan yang lalu. Proses kesadaran tidak pernah berhenti. Kesadaran terakhir dari makhluk yang meninggal proses terus dan menghasilkan kesadaran lain itu adlah patisandhi vinnana yang hanya bergetar sesaat lalu lenyap dan langsung diikuti oleh bhavanga citta.
Ada beberapa macam cara kelahiran kembali, dinyatakan pula bahwa ada 4 macam cara kelahiran kembali dari makhluk-makhluk, yaitu:
1. Jalabuja, yaitu makhluk yang lahir melalui kandungan, seperti manusia dan binatang-binatang tertentu.
2. Andaja, yaitu makhluk yang lahir melalui telur,seperti unggas, ular (kecuali king snack, di amerika selatan yang melahirkan anak), buaya, dan binatang lain.
3. Samsedaja, yaitu makhluk yang lahir di tempat yang lembab atau bukan cara jalabuja atau andaja, seperti binatang tingkat rendah.
4. Opapatika, yaitu makhluk yang lahir secara spontan. Biasanya makhluk yang lahir secara spontan adalah makhluk yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Contohnya: para dewa, peta atau setan, asura dan makhluk-makhluk alam Brahma.

1. Bhavanga Citta
Setelah patisandhi vinnana lenyap, Bhavanga citta muncul dan bergetar selama 16 saat. Pada tahap embrio maka ia masih merupakan bagian tubuh ibu. Itu sebabnya bhavanga citta berproses dengan lancer tanpa ada gangguan.
2. manodvaravajjana
Telah disebutkan diatas bahwa bhavangga citta hanya berlangsung selama 16 saat dan lenyap. Kemudian muncul manodvaravajjana. Bhavanga citta memberikan jalan untuk proses berpikir langsung berdasarkan pada keinginan yang muncul dalam batin dari embriyo karena kehidupan barunya.
3. Javana
Segera setelah manodvaravajjana lenyap, Javana atau impuls kesadaran muncul. Javana melangsungkan kesadaran yang terjadi pada Manodvaravajjana yaitu keinginan pada kehidupan baru. Javana mengembangkan keinginan makhluk baru (Bhava-nikanti Javana). Javana bergetar selama 7 saat lenyap.
4. Bhavangga citta
Ketika Javana lenyap, Bhavanga citta muncul dan bergetar. Bhavanga citta berhenti setelah bayi dalam kandungan mulai berpikir, karena mengalami perubahan kondisinya dalam kandungan.
B. Apakah penyebab tumimbal lahir itu?
Sang Buddha mengajarkan bahwa ketidak tahuan akan sifat sejati kehidupan menghasilkan nafsu. Nafsu yang tak terpuaskan adalah sebab tumimbal lahir. Saat semua nafsu yang tak terpuaskan terpadamkan, maka tumimbal lahir akan berakhir, manusia seharusnya menghilangkan nafsu-nafsu indria untuk memutuskan roda tumimbal lahir akan tetapi hal ini bukan suatu yang mudah sehingga sangat jarang manusia yang mampu memutus nafsu-nafsu keinginan untuk mencapai kehidupan yang tidak bertumimbal lahir lagi atau dalam kata lain disebutkan mencapai suatu kesucian. Semua manusia mengharapkan kesucian akan tetapi mereka sangat susah untuk menghilagkan nafsu-nafsu keinginan yang melekat pada diri mereka. Memadamkan tumimbal lahir berarti memadamkan semua nafsu. Untuk memadamkan nafsu, perlu untuk menghancurkan ketidaktahuan. Saat ketidaktahuan hancur, ke-tidak-berharga-an setiap tumimbal lahir akan dirasakan, serta hasrat memuncak untuk mengambil suatu kehidupan semacam itu dapat diakhiri.
Ketidaktahuan juga memunculkan ide ilusifdan tak logis hanya ada satu keberadaan manusia, dan ilusi lain bahwa satu kehidupan ini diikuti oleh keadaan permanen akan kesenangan atau siksaan abadi.
Sang Buddha mengajarkan bahwa ketidaktahuan dapat dihilagkan dan kesedihan dapat disingkirkan dengan menyadari empat kesunyataan mulia yaitu Dukkha, Sebab Dukkha, Lenyapnya Dukkha, dan Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha. Untuk membasmi semua ketidaktahuan seorang harus bertekun dalam praktik luhur kelakuan, intelektual dan kebijaksanaan. Seseorang juga harus menghancurkan semua nafsu akan kesenangan pribadi dan nafsu mementingkan diri.
Saat tubuh fisik ini tidak mampu lagi berfungsi, energi tidak mati bersamnaya, tetapi terus berlangsung untuk mengambil bentuk lainny, yang kita sebut kehidupan lain. Kekuatan karma yang mewujudkan dirinya sendiri dalam bentuk manusia juga dapat terwujud dalam bentuk hewan. Hal ini dapat terjadi jika orang tidak berkesempatan mengembangkan kekuatan karma positifnya. Kekuatan ini, yang disebut nafsu, hasrat, kehendak, haus akan hidup, tidak berakhir dengan tidak berfungsinya tubuh, tatapi terus mewujudkan diri dalam bentuk lain, menghasilkan keberadaan kembali.hal ini disebut tumimbal lahir atau kembali menjadi. Umat Buddha tidak menyebutnya “reinkarnasi” karena tidak ada entitas atau jiwa permanen yang pindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Tumimbal lahir atau menjadi lagi dan lagi adalah kejadian alami yang tidak diciptakan agama atau dwa tertentu. Percaya atau tidak percaya akan tumimbal lahir tidak membuat perbedaan bagi proses tumimbal lahir atau mencegah tumimbal lahir. Tumimbal lahir terjadi selama nafsu akan keberadaan dan kesenangan indrawi atau kemelekatan ada dalam pikiran. Energi mental yang kuat itu berlaku pada setiap dan semua makhluk hidup dialam semesta ini. Mereka yang berharap dan berdo’a agar mereka tidak bertumimhbal lahir harus memahami bahwa harapan mereka tidak akan terwujud sampai mereka mslakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mebasmi nafsu dan kemelekatan dalam pikiran mereka. Setelah melihat ketidak pastian dan ketidakpuasan kehidupan dalam kondisi duniawi ini, orang bijaksana mencoba melepaskan diri dari perulangan kelahiran dan kematian dengan mengikuti jalan permunian mental yang benar. Mereka yang tidak mapu menguragi nafsu dan kemelekatannya harus siap untuk menghadapi semua ketidakpuasan dan situasi tak menentu yang menyertai tumimbal lahir dan untuk menjadi lagi dan lagi.
C. Sebab-Sebab kelahiran unggul sebagai manusia?
Untuk memperoleh suatu bentuk kelahiran sebagai manusia yang bebas dan terberkahi adalah sulit karena bentuk kelahiran sebagai manusia ini memerlukan kehadiran secara bersama-sama semua penyebab-penyebabnya. Sebab pertama adalah praktik disiplin moral yang murni, kedua adalah praktik dari enam kesempurnaan. Lebih jauh lagi, kita perlu memanjatkan do’a dengan motifasi yang murni. Masing-masing dapat bertanya pada dirinya sendiri apakah kita sedang meproduksi berbagai sebab ini. Untuk menentukan apakah kita sedang mempraktikkan semua disiplin moral yang murni, kita tidak perlu meminta pendapat orang lain.nkita memeriksa tingkah laku kita sendiri. Untuk melakukannya, kita dapat melihat tingkah laku kita dalam waktu satu hari. Kita akan coba memeriksa apa yang terjadi dalam pikiran kita dari waktu kita bagun dipagi hari sampai sekarang. Kita akan memeriksa apakah pikiran kita telah disiplin, dipengaruhi oleh faktor-faktor mental pengganggu, atau dalam satu keadaan yang netral. Kita harus mengukur berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam keadaan pikiran bajik dibandingkan ketika batin kita dalam keadaan tidak bajik atau netral.
Kita mungkin mengatakan, ketika saya bangun dipagi hari, saya melakukan praktik meditasi,’ tetapi kita perlu bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita ketika kita melakukan hal tersebut? Ketika saya praktik kebajikan, apakah semua dari tiga unsur hadir yaitu tahap persiapan, tindakan itu sendiri dan penyelesaianya? Apakah semua unsur diatas yang diperlukan untuk membuat sebuah jalan karma yang kuat, hadir atau tidak? Ketika saya membaca do’a-do’a atau meditasi, mungkin saya sedang membaca teks saya tetapi dimanakah pikiran saya waktu itu?
Kalau kita jujur, kita akan harus mengakui bahwa sulit untuk menemukan perbuatan atau pikiran bajik yang lengkap dengan persiapan , tindakan dan penyelesaian. Dengan dasar inilah, kita menjadi mengerti tentang kesukaran dalam mendapatan suatu bentuk kelahiran yang lebih tinggi seperti kita dapatkan saat ini. Bila kita gagal mendapatkan kelahiran lagi seperti yang kita miliki sekarang ini dan sebaliknya jatuh pada suatu kelahiran yang lebih rendah, akan sangat sulit bagi kita untuk membangkitkan suatu kebajikan. Hal ini dikarenakan praktis seluruh waktu akan dilewatkan dibawah pengaruh salah satu dari tiga racun mental (yaitu: kemelekatan, kebodohan, dan kebencian). Sulit untuk membayangkan bagaimana seekor binatang, seperti seekor anjing mampu belajar sesuatu tentang Dhamma atau memiliki suatu jenis suatu kecerdasan yang mampu membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk. Karena hal ini para binatang tidak dapat membagkitkan nilai kebajikan (karma baik) yang baru. Ini berarti bahwa mereka melanglang buana dari satu kelahiran yang lebih rendah berikutnya. Inilah alasan mengapa sangat sulit untuk keluar dari alam yang lebih rendah sekali ketika telah terlahir disana.
Jika kita membandingkan kesukaran untuk merealisasikan pencerahan dengan basis bentuk kehidupan yang kita miliki saat ini, dan kesukaran untuk bangkit dan terlahir dialam yang lebih tinggi dari kelahiran dialam yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa jauh lebih sulit dibandingkan untuk merealisasikan pencerahan. Ketika kita dapat memahami akibat dari kelahiran dialam-alam rendah tersebut, hal ini cukuo untuk memberikan kita sebuah rasa takut.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Proses kelahiran kembali merupakan sebuah fenomena alam yang abadi, setiap orang yang belum dapat melenyapkan noda-noda batin dalam dirinya sudah pasti akan terus mengalami proses kelahiran kembali.
Kelahiran kembali bukan hanya terjadi pad amanusia tetapi kelahiran kembali terjadi pada binatang sekalipun karna terlahir menjadi binatang karna ada buah dari karma masa lampau. Ada tiga faktor yang menyebabkan proses kelahiran kembali selalu berputar yaitu kemelekatan, kebodohan dan kebencian. Apabila ketiga faktor ini masih ada pada diri tak akan ada satu orangpun yang dapat mengingkari proses kelahiran kembali.
Dengan melenyapkan tiga faktor ini manusia akan dapat menghentikan proses kelahiran kembali, manusia yang sudah tidak melekati keduniawian, manusia yang sudah tidak memupuk kebodohan dalam diri dan manusia yang sudah tidak membenci atau berbuat kebencian. Kelahiran sebagai seorang manusia sangatlah sulit dan membutuhkan karma yang mendukung sehingga kita sebagai manusia kita harus bersyukur dengan kelahiran kita sekarang ini. Dalam kehidupan sekarang ini kita harus berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya sehingga kita dapat terlahir di tingkatan yang lebih tinggi dari kelahiran sebagai manusia.
B. Saran
Semoga makalah yang penulis susun dapat bermanfaat dan menjadi tambahan pagi pengetahuan para pembaca. Penulis mengharapkan dukungan dari para pembaca agar penulis nantinya dapat menyusun makalah yang lebih baik lagi sehingga dapat menjadi refrensi dan tambahan pengetahuan bagi para pembaca.

Daftar Pustaka

Y.M. Dagpo Lama Ripoche, 2000, Kemuliaan Kelahiran Sebagai Manusia. Bandung, Kadam Choe Ling.
Wowor Cornelis MA, 2004, Hukum Karma Buddhis, CV. Nitra Kencana Buana.
Sri Dhammananda, 2002, Keyakinan Umat Buddha, Yayasan Penerbit karaniya, Ehipassiko Foundation.
Wowor Cornelis MA, 1999, Buku Pelajaran Agama Buddha Sekolah Menengah Tingkat Atas Kelas III, Paramita Surabaya

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.